U-Be-Pe 2016

20160114_014322

di ruang tunggu bandara KLIA2

Salah satu permohonan doa saat berumrah di tahun 2014 adalah keinginan untuk kembali dan diberikan kesempatan mengunjungi Baitullah bersama suami dan anak-anak. Waktu itu janjian sama Mbak Afi, panjang umur bisa berumrah bersama 2 tahun kemudian dan bawa anak-anak. Alhamdulillah, diberi kesempatan itu, dapat tiket promo Airasia Makassar-KL-Jeddah pp di bulan Januari 2015 untuk keberangkatan Januari 2016 dengan harga 6,5juta. Teman yang saya sempat tawari agak ragu-ragu dan sempat berujar, “Gak takut naik Airasia? Waktu itu, lagi marak pemberitaan kecelakaan pesawat Airasia yang terjadi sebulan sebelumnya. Yaelah, Bismillaahi tawakkaltu sajalah. Ajal gak tergantung sama merek pesawat, tapi terjadi dengan ketentuan dan ketetapan Allah, baik kapan maupun dimananya. Ke Perth, ke Yangon dan ke Osaka/Tokyo tahun lalu semuanya menggunakan pesawat Airasia. Total rombongan umrah backpacker (U-Be-Pe) kali ini sampai last minute mau berangkat berjumlah 27orang dengan Mbak Afi sebagai tour leadernya.

Land Arrangement (LA) group kami sekitar USD 468 diluar biaya makan. Meliputi pengurusan visa, hotel 9malam, transport selama di Saudi Arabia dan pada saat ziarah/city tour, muthawwif, snack dan air mineral selama di bus, nasi kotak pada saat kedatangan dan kepulangan, zamzam 5 liter. Kurs lagi tinggi-tingginya, hiks. Kalo dirupiahkan 6,5juta. Untuk pengurusan visa umrah, berkas yang dibutuhkan antara lain: paspor asli, buku suntik meningitis, tiket, copy KTP, buku nikah asli (buat visa istri), akte kelahiran anak asli (buat visa anak). Kirim berkas sebulan sebelumnya ke mbak Afi, deg-degan juga karena visa baru keluar seminggu sebelum keberangkatan.

Total biaya umrah kami berempat (saya, suami dan anak-anak) adalah sekitar 56,4juta (tiket, LA, dan biaya makan) atau sekitar 14,1juta/orang. Berempat lho. Alhamdulillah. Gak perlu kuatir ninggalin anak-anak dirumah, kesempatan bersama mereka 24 jam dalam waktu yang cukup lama, sejenak meninggalkan hiruk pikuk pekerjaan. Nikmat manakah yang kamu dustakan?

Dari Makassar ada 9 orang yang berangkat, nantinya ketemu seluruh rombongan di bandara KLIA2. Selisih waktu antar penerbangan Makassar-KL, KL-Jeddah sekitar 6 jam, cukup buat santai-santai, cari makan bahkan sempat beli jaket di bandara. Kuatir, kalo suhu udara di Arab terlalu dingin sementara saya gak bawa jaket.

Rombongan yang dari Makassar, udah saya wanti-wanti agar menggunakan koper tidak lebih dari 20 inch dan berat tidak lebih dari 7 kg supaya koper gak perlu dibagasikan. Tujuan lainnya supaya barang-barang yang dibawa memang merupakan barang yang diperlukan disana dan mereka belajar packing ringkas. Lumayan menghemat 500ribu (biaya bagasi 25kg), pulangnya aja baru beli bagasi saat koper sudah terisi oleh-oleh.

Pesawat nyaris penuh dengan formasi 3-3-3. Tempat duduk kami berurutan dapatnya dan dengan rombongan lain juga duduknya berdekatan, meski kami tidak membeli fasilitas memilih tempat duduk. Mungkin pengaruh check in di website lebih awal. Web check in terbuka 14 hari sebelum keberangkatan. Berharap dapat makanan gratis di pesawat sama seperti waktu umrah sebelumnya, tidak terkabul. Hehe. Mungkin yang dulu hanya kebetulan atau awal-awal penerbangan perdana ke Jeddah, makanya penumpang baik yang beli makanan maupun tidak, tetap dikasih makanan dan air mineral sampai 2x, malam hari dan di pagi hari.

20160114_130621

Mbak Afi, Ibunya Kajol dan Kajol lagi antri imigrasi di bandara King Abdul Azis, Jeddah

Ada proses yang beda saat tiba di bandara Jeddah. Kalau umrah sebelumnya, cukup lama kita menunggu di ruang tunggu sebelum diperbolehkan untuk antri imigrasi. Sekarang begitu tiba, langsung diminta untuk antri imigrasi. Entah apa karena lagi gak terlalu banyak jamaah yang tiba pada saat itu. Ngantri imigrasi pun gak lama. Sekitar 30 menit, rombongan kami sudah selesai proses imigrasi. Ada sedikit masalah, 1 kopernya Mbak Afi gak ketemu. Saya diminta Mbak Afi untuk kontak si supir bus sambil dianya melapor soal kehilangan tersebut. Supir busnya sudah ada di bandara, makanya kami segera keluar. Ada petugas yang mendekati saya, mengecek paspor dan membantu menelponkan si supir. Tadi waktu saya telpon pak supirnya, gak terlalu jelas ngomongnya. Yah dia ngomongnya pake bahasa Arab, mana kita ngerti. Hehehe. Sama si petugas juga saya jelaskan bahwa kami masih menunggu teman kami yang masih berada di dalam bandara mengurus kehilangan bagasi.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Madinah sambil menikmati sarapan nasi kotak di bus.  Bagasi yang hilang sudah dipasrahkan sama pemiliknya, koper tersebut berisi makanan rendang dan sebagainya. Di umrah yang terdahulu, teman kami juga pernah kehilangan 2 koper yang dibagasikan dan baru ketemu koper tersebut di bandara KLIA2 saat pulang dari Jeddah, menyebalkan kan? Teman kami sampai beli baru semua keperluan selama disana karena semua pakaiannya ada di 2 koper tersebut. Anggap saja lagi diuji kesabaran.

Muthawwifnya, ustadz Imam ternyata pernah jadi salah satu muthawwif pada umrah yang terdahulu. Umrah yang dulu itu sampai pakai 3 muthawwif, entah kenapa. Mungkin efisiensi, karena salah satu muthawwifnya mukim di Makkah, begitu sampai di Makkah, ganti lagi. Untuk umrah yang ini, alhamdulillah hanya 1 muthawwif yang menemani kami mulai dari Jeddah sampai kembali ke Jeddah. Beliau adalah mahasiswa Universitas di Madinah yang lagi libur, soal pengetahuan dan sejarah cukup bagus.

Baca juga:

Pilihan hotel Umrah Backpacker,

Yuk Umrah Backpacker

 

Advertisements

2 thoughts on “U-Be-Pe 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s