Kalau ada yang bertanya, apa pengalaman paling menyebalkan selama saya traveling ke luar negeri?

Mungkin cerita ini akan masuk tiga besar.

Trip kali ini benar-benar menguras energi, bukan karena trekking yang berat atau berpindah kota setiap hari, tetapi karena sejak sebelum berangkat semuanya terasa tidak berjalan mulus.

Awalnya saya harus menerima kenyataan bahwa e-Visa Moldova ditolak. Padahal Moldova sudah masuk itinerary sejak awal. Setelah berpikir keras dan mengutak-atik jadwal penerbangan, akhirnya saya mengubah negara pertama yang akan dikunjungi menjadi Northern Cyprus (Siprus Utara).

Saya pikir, masalah sudah selesai. WNI bebas visa masuk Siprus Utara, dan WNI bisa masuk Siprus Selatan atau Republik Siprus asalkan ada visa Schengen multiple yang masih berlaku.

Jam 3 pagi sudah berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Penerbangan pertama pukul 05.00 menuju Kuala Lumpur dengan Airasia. 6 bulan lalu saya beli tiketnya Jakarta–Istanbul hanya sekitar Rp2,2 juta sekali jalan. Inilah yang jadi modal saya melakukan trip kali ini.

Transit sebentar, lanjut Kuala Lumpur–Istanbul. Dari Istanbul masih harus terbang lagi menuju Bandara Ercan di Lefkoşa, Siprus Utara.Total tiga kali ganti pesawat.

Perjalanan panjang seperti ini justru membuat saya semakin bersemangat.

Sebentar lagi negara baru. Sebentar lagi cap paspor baru. Sebentar lagi petualangan dimulai.

Sama sekali tidak menyangka bahwa malam itu saya justru tidak akan keluar dari bandara.

Sekitar pukul 23.30, saya tiba di Bandara Ercan. Antrian imigrasi cukup panjang. Saat giliran saya, petugas hanya bertanya singkat.

“Where will you stay?”

Dengan santainya saya menunjukkan reservasi hotel yang berada di Siprus Selatan.

Petugas  meminta saya mengikuti ke ruangan di belakang. Saat itulah saya mulai merasa ada yang tidak beres.

Di ruang pemeriksaan saya diberi tahu bahwa saya tidak bisa masuk ke Siprus Selatan melalui jalur tersebut.

Saya mencoba menjelaskan bahwa saya memiliki visa Schengen multiple entry.

Petugas menjawab bahwa visa tersebut tidak bisa digunakan, kecuali visa Schengen yang diterbitkan oleh Yunani.

Saya sempat bingung. Karena sebelum berangkat saya membaca cukup banyak pengalaman WNI yang berhasil masuk ke Siprus Selatan menggunakan visa Schengen.

Belakangan saya baru menyadari kemungkinan masalahnya bukan semata soal visa.

Saya masuk melalui Northern Cyprus, sementara hotel saya berada di Republic of Cyprus (Siprus Selatan).

Dua wilayah ini memang memiliki kondisi yang sangat unik.

Pulau Siprus terbagi menjadi dua wilayah.

Di bagian selatan terdapat Republic of Cyprus, negara anggota Uni Eropa yang diakui secara internasional. Sementara bagian utara adalah Turkish Republic of Northern Cyprus (TRNC) yang hanya diakui oleh Turki. Keduanya dipisahkan oleh Green Line, zona penyangga yang diawasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Secara fisik kita memang bisa menyeberang melalui beberapa checkpoint. Namun masing-masing memiliki aturan imigrasi sendiri.Hubungan politik keduanya juga masih belum sepenuhnya harmonis sejak pulau ini terpecah pada tahun 1974. Kemungkinan besar petugas menilai saya tidak memenuhi persyaratan untuk melanjutkan perjalanan menuju Siprus Selatan melalui Siprus Utara.

Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin saya seharusnya mencoba meminta mengubah reservasi hotel menjadi hotel di Siprus Utara.

Sayangnya saat itu saya sedang panik. Keputusan sudah dibuat. Saya ditolak masuk dan akan dipulangkan ke Istanbul pada penerbangan pertama yang tersedia.

22 Jam Tinggal di Ruang Imigrasi

Setelah keputusan tersebut, saya diantar menuju sebuah ruangan khusus perempuan.

Begitu saya masuk, pintunya langsung dikunci dari luar.

Jujur saja, perasaan saya campur aduk. Sedih. Kecewa. Bingung. Pasrah.

Di dalam ruangan terdapat lima tempat tidur susun tanpa seprai. Hanya kasur dan selimut. Ada kamar mandi. Ada dispenser air minum. Ada Wi-Fi, tetapi entah kenapa tidak berhasil tersambung.

Malam itu saya menjadi penghuni pertama. Tidak lama kemudian datang perempuan-perempuan lain dengan cerita yang berbeda-beda. Ada dua perempuan asal Maroko yang katanya datang mengunjungi kakaknya. Mereka juga ditolak masuk. Mereka berkali-kali mengatakan, “We didn’t even have a chance to explain.” Sekitar tiga jam kemudian mereka dipanggil keluar. Lalu datang lagi ibu hamil. Seorang ibu yang membawa bayi di stroller. Seorang perempuan muda asal Turki. Orang-orang terus berganti. Total mungkin sekitar delapan perempuan yang keluar masuk ruangan itu. Akhirnya yang tersisa paling lama hanya saya dan seorang perempuan Turki.

Awalnya kami hanya saling diam karena sama-sama tidak bisa berbahasa Inggris dengan lancar.

Namun semakin lama akhirnya kami mulai mengobrol menggunakan Google Translate.

Ia bercerita datang berlibur bersama temannya. Temannya berhasil masuk. Sedangkan dirinya ditolak karena tidak bisa menunjukkan kartu identitas Turki yang katanya hilang. Akhirnya nasib kami sama. Sama-sama menunggu penerbangan kembali ke Istanbul.

Pagi harinya saya terbangun oleh notifikasi email. Tiket pesawat untuk kembali ke Istanbul sudah diterbitkan.

Jam keberangkatannya? Pukul 22.00 malam.

Artinya saya akan menghabiskan waktu sekitar 22 jam di imigrasi ini sampai tiba waktunya berangkat

Untungnya selama menunggu kami tetap diberi makan. Petugas datang mengantarkan sarapan. Kemudian makan siang.

Saya sempat tertidur beberapa kali. Lebih tepatnya memaksa diri untuk tidur. Karena tidak ada yang bisa dilakukan.

Hari itu saya benar-benar menghabiskan waktu dengan bermain game di ponsel, membaca, scrolling media sosial, dan sesekali melamun.

Mungkin itu salah satu hari paling gabut yang pernah saya alami di luar negeri. Saya yang cukup pengalaman dalam hal traveling ditolak masuk.

Saat akhirnya tiba waktu keberangkatan, kami dipanggil lebih dulu dibanding penumpang lain. Kami boarding paling awal.

Duduk di deretan kursi paling belakang. Paspor saya diserahkan petugas imigrasi kepada awak kabin. Sesampainya di Istanbul, kami juga menjadi penumpang terakhir yang turun dari pesawat. Petugas maskapai kemudian mengantar kami sampai ke loket imigrasi Turki. Baru setelah lolos pemeriksaan, paspor saya dikembalikan. Prosesnya cukup rapi. Mereka benar-benar memastikan penumpang yang dideportasi masuk kembali ke negara asal keberangkatan dengan aman.

Sesampainya di Istanbul sebenarnya saya sudah kehilangan satu negara. Tetapi saya belum kehilangan semangat.

Saya masih memiliki tiket berikutnya: Lefkoşa – Ankara – Barcelona.

Karena penerbangan dari Lefkoşa otomatis hangus, saya harus mencari cara agar tetap bisa mengejar itinerary berikutnya.

Saya langsung mencari penerbangan Istanbul–Ankara paling pagi. Untung masih ada tiket sekitar Rp500 ribuan untuk keberangkatan pukul lima pagi. Tanpa pikir panjang langsung saya beli. Daripada menghabiskan waktu di Istanbul. Toh saya sudah beberapa kali berkunjung ke kota itu. Lebih baik segera kembali ke jalur itinerary yang sudah saya susun.

Karena masih harus menunggu beberapa jam di Bandara Sabiha Gökçen, saya memilih mencari tempat yang nyaman.

Pilihan jatuh ke Starbucks. Lokasinya cukup tenang dan tidak terlalu ramai. Cocok untuk mengisi daya ponsel sekaligus beristirahat di sofa. Green Tea Frappuccino ukuran Tall harganya sekitar 500 Lira Turki. Kalau dikonversi saat itu sekitar Rp200 ribu. Saya sampai bengong sebentar. Tiga kali lipat harga di Indonesia. Bahkan kalau dibandingkan dengan Starbucks di Amerika Serikat di negara asalnya, harganya masih lebih mahal. Tapi demi keamanan dan kenyamanan, biarlah saja.

Itulah traveling kadang tidak sesuai yang direncanakan. Pengalaman ini menjadi salah satu cerita paling berharga dalam perjalanan saya. Tidak semua orang pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi penumpang yang refusal of entry, tidur di ruang detensi imigrasi, lalu dipulangkan dengan pengawalan. Mahal memang biaya belajarnya. Melelahkan juga.

Leave a Reply

I’m Dewi

Sunset @ Sahara

Selamat datang di blog saya — tempat saya berbagi cerita, pengalaman, dan potongan perjalanan hidup.

Let’s connect

Discover more from Penyukajalanjalan

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading