Jujur saja, Ankara sejak awal bukan tujuan utama dalam perjalanan saya. Kota ini hanya menjadi tempat transit semalam sebelum melanjutkan penerbangan ke Barcelona. Bahkan setelah drama ditolak masuk Siprus Utara dan dipulangkan ke Istanbul, saya sengaja membeli tiket menuju Ankara agar tetap bisa kembali ke itinerary semula.

Alasannya sederhana. Saya sudah beberapa kali ke Istanbul. Daripada menghabiskan waktu di sana, lebih baik sekalian mengenal ibu kota Turki yang selama ini belum pernah saya datangi.

Pesawat mendarat sekitar pukul 07.00 pagi. Dari Bandara Ankara Esenboğa saya memilih naik bus menuju pusat kota.

Begitu hendak membayar, ternyata bus hanya menerima uang tunai. Saya belum sempat menukar uang Lira Turki karena baru saja tiba.

“Euro boleh?” tanya saya.

Kondekturnya mengangguk.

“Lima Euro.”

Saya sempat menghitung cepat dalam kepala. Kalau dikonversi memang sedikit lebih mahal dibanding tarif normal, tapi masih masuk akal. Daripada turun dan mencari money changer, saya mengiyakan saja.

Sekitar satu jam kemudian saya tiba di halte tujuan. Dari sana tinggal berjalan kaki sekitar lima puluh meter menuju hotel.

Karena masih terlalu pagi untuk check-in, saya hanya menitipkan ransel, mencuci muka, berganti baju, dan menyegarkan diri sebentar.

Hari masih panjang. Matahari baru akan terbenam sekitar pukul sembilan malam. Artinya saya punya waktu hampir seharian penuh untuk berjalan-jalan.

Saya kemudian mampir ke ATM dan menarik uang tunai sekitar 2.000 Lira Turki, kurang lebih setara Rp800 ribuan, sebagai bekal selama di Ankara.

Sisanya?

Saatnya jalan kaki.

Saya memang paling suka mengenal sebuah kota dengan berjalan kaki. Selain hemat, kita bisa lebih menikmati suasana, memperhatikan bangunan-bangunan tua, melihat aktivitas warga lokal, dan kadang menemukan sudut-sudut menarik yang tidak muncul di Google Maps.

Perhentian pertama saya adalah Hacı Bayram Mosque.

Masjid ini merupakan salah satu masjid paling bersejarah di Ankara dan menjadi tempat yang cukup ramai dikunjungi warga lokal maupun wisatawan. Suasananya tenang, halaman masjid luas, dan arsitekturnya memadukan unsur Ottoman dengan nuansa klasik yang membuat siapa pun betah berlama-lama.

Yang menarik, tepat di samping masjid berdiri Temple of Augustus, reruntuhan kuil Romawi yang usianya sudah lebih dari dua ribu tahun.

Rasanya unik sekali melihat sebuah masjid berdampingan dengan peninggalan Kekaisaran Romawi.

Dua peradaban yang berbeda, berdiri berdampingan dalam satu kawasan.

Saya cukup lama duduk di area ini, menikmati suasana sambil memperhatikan orang-orang yang datang untuk salat maupun sekadar berfoto.

Dari sana saya melanjutkan perjalanan menuju Ankara Castle.

Benteng tua ini berada di atas bukit sehingga lumayan juga tenaga yang harus dikeluarkan untuk mencapainya.

Namun semua rasa lelah langsung terbayar begitu sampai di atas.

Dari benteng ini saya bisa melihat panorama kota Ankara dari ketinggian. Rumah-rumah dengan atap merah, jalan-jalan yang membelah kota, hingga gedung-gedung modern terlihat berpadu dengan kawasan kota tua.

Perjalanan menuju benteng juga menyenangkan.

Jalanannya berupa batu-batu klasik khas kota tua, di kanan-kiri dipenuhi toko suvenir, galeri seni kecil, penjual kerajinan tangan, hingga kafe-kafe mungil yang terasa hangat.

Suasananya jauh berbeda dengan pusat kota Ankara yang modern.

Kalau punya waktu lebih banyak, rasanya enak juga duduk santai di salah satu kafe sambil menikmati secangkir teh Turki.

Tidak jauh dari benteng terdapat Museum of Anatolian Civilizations, salah satu museum terbaik di Turki yang menyimpan koleksi sejarah peradaban Anatolia sejak ribuan tahun lalu.

Awalnya saya memang berniat masuk. Tetapi melihat waktu yang terbatas, akhirnya saya hanya menikmati bagian luarnya saja. Saya lebih memilih menghabiskan waktu berjalan menikmati kota dibanding berlama-lama di dalam museum.

Tujuan berikutnya adalah Anıtkabir, tempat peristirahatan terakhir Mustafa Kemal Atatürk, pendiri Republik Turki.

Menurut saya, inilah tempat yang paling wajib dikunjungi ketika berada di Ankara.

Kompleksnya sangat luas, megah, dan tertata rapi.

Jalan menuju mausoleum dibuat sangat simetris sehingga memberikan kesan monumental sejak pertama kali masuk.

Di dalam kawasan juga terdapat museum yang menceritakan perjuangan Atatürk, berdirinya Republik Turki, hingga berbagai koleksi pribadi beliau.

Meskipun bukan penggemar sejarah, saya tetap merasa tempat ini sangat menarik karena memberikan gambaran bagaimana sosok Atatürk begitu dihormati oleh masyarakat Turki.

Sore harinya saya menuju Kızılay Square, kawasan yang bisa dibilang menjadi jantung kota Ankara.

Di sinilah suasana kota modern benar-benar terasa.

Pusat perbelanjaan, restoran, kafe, toko pakaian, hingga anak-anak muda yang berkumpul memenuhi kawasan ini.

Sebagai emak-emak yang tidak bisa melihat toko tanpa mampir sebentar, saya iseng masuk ke Koton dan LC Waikiki.

Siapa tahu ada diskon atau barang yang menarik. Ternyata… tidak ada yang berhasil merayu dompet saya hari itu.

Setelah cukup puas berkeliling, saya memilih makan malam di McDonald’s. Kadang saat traveling, makanan cepat saji justru menjadi pilihan paling praktis. Selain harganya mudah diperkirakan, kita juga tidak perlu lama berpikir soal menu.

Untuk pulang ke hotel saya sengaja mencoba naik MRT. Yang membuat saya senang, pembayaran cukup menggunakan kartu debit yang sudah mendukung fitur contactless. Tidak perlu repot membeli kartu transportasi atau mengisi saldo terlebih dahulu. Sangat praktis.

Sesampainya di hotel saya langsung istirahat total. Rasanya badan baru benar-benar menyadari kelelahan setelah drama hampir dua hari sebelumnya di Siprus Utara.


Keesokan paginya saya masih punya sedikit waktu sebelum berangkat ke bandara.

Saya memutuskan berjalan ke Gençlik Park, taman kota yang letaknya tidak jauh dari Stasiun Ankara.

Tamannya cukup luas dengan danau buatan dan area hijau yang nyaman. Sayangnya pagi itu suasananya sangat sepi.

Mungkin karena masih terlalu pagi. Entah kenapa saya justru merasa kurang nyaman berada sendirian di taman yang luas tanpa banyak orang. Akhirnya hanya sebentar menikmati suasana, lalu saya memutuskan keluar dan kembali menuju hotel untuk mengambil ransel.

Tantangan berikutnya ternyata bukan menuju bandara, tetapi menemukan halte bus bandara.

Petugas hotel sebenarnya menyarankan saya naik taksi saja.

“Lebih mudah,” katanya.

Tetapi jiwa budget traveler saya langsung berhitung.

Naik bus sekitar 250 Lira.

Naik taksi sekitar 1.100 Lira.

Selisihnya lumayan sekali.

Selama masih ada pilihan transportasi umum, saya akan mencoba dulu.

Kalau benar-benar mentok, baru naik taksi.

Saya pun mulai bertanya ke sana-sini.

Seorang polisi wanita yang sedang berjaga mencoba membantu dengan bahasa Inggris seadanya.

Beliau menyarankan saya berjalan ke arah stasiun kereta.

Untungnya sehari sebelumnya saya sudah sempat naik MRT, jadi masih cukup hafal arahnya.

Sesampainya di stasiun, saya kembali bertanya kepada beberapa orang.

Kebetulan ada seorang warga lokal yang ternyata juga sedang mencari bus menuju bandara.

Akhirnya kami menemukan halte yang benar.

Alhamdulillah.

Meskipun agak mepet, saya berhasil tiba di bandara tepat waktu.

Saya pikir tantangan hari itu sudah selesai.

Ternyata belum.

Saat proses boarding, barcode di boarding pass saya tiba-tiba tidak bisa dipindai.

Petugas mencoba beberapa kali.

Tetap gagal.

Saya diminta menunggu di samping sementara seluruh penumpang lain dipersilakan naik ke pesawat.

Dalam hati saya mulai panik.

“Ya Allah… cobaan apa lagi ini?”

Padahal beberapa menit sebelumnya barcode yang sama berhasil dipindai oleh petugas imigrasi tanpa masalah.

Barulah saya teringat.

Tiket saya sebenarnya dibeli dalam satu kode booking untuk rute:

Lefkoşa – Ankara – Barcelona.

Karena saya ditolak masuk Siprus Utara dan dipulangkan ke Istanbul, otomatis penerbangan Lefkoşa–Ankara tidak saya gunakan.

Pada banyak maskapai, jika penerbangan pertama tidak digunakan, maka seluruh penerbangan berikutnya dalam booking yang sama otomatis dibatalkan.

Sambil menunggu saya sempat mencari informasi mengenai kebijakan AJet.

Beberapa sumber mengatakan bahwa sebagai maskapai low-cost carrier dengan sistem point-to-point, tiket berikutnya masih memungkinkan untuk digunakan.

Tetapi tetap saja saya belum tenang.

Saya hanya bisa memasang wajah penuh harap.

Petugas berkata,

“Please wait… we are processing your ticket.”

Setelah seluruh penumpang selesai boarding, akhirnya petugas memanggil nama saya.

Beliau mengambil boarding pass lama, lalu menuliskan nomor kursi baru dengan tulisan tangan.

“You’re good to go.”

Alhamdulillah…

Rasanya lega sekali.

Kemungkinan besar mereka bisa melihat riwayat penerbangan saya bahwa saya memang tidak sengaja melewatkan penerbangan pertama karena sebelumnya mengalami refusal of entry di Siprus Utara.

Akhirnya saya benar-benar bisa melanjutkan perjalanan menuju Barcelona.

 

Leave a Reply

I’m Dewi

Sunset @ Sahara

Selamat datang di blog saya — tempat saya berbagi cerita, pengalaman, dan potongan perjalanan hidup.

Let’s connect

Discover more from Penyukajalanjalan

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading