Kuliner di Yogya dan sekitarnya

Kuliner di Yogya tidak hanya gudeg, banyak wisata kuliner lainnya yang ngehits. Saya mencoba beberapa referensi dari internet dan info dari driver mobil rental yang kita sewa. Beberapa diantaranya:

  1. Kopi Klotok Pakem Sleman

Jualannya kopi, tapi bisa juga makan siang disini. Ini referensi dari driver, katanya bisa makan sepuasnya tapi harus siap ngantri. Lokasinya agak terpencil bukan di jalan besar atau jalan poros. Ramainya minta ampun. Mungkin ini yang bikin penasaran, seenak apa sih sampai ramai sekali. Rumah joglo semi terbuka ini cukup luas, bisa juga lesehan diluar. Kalo gak terik, enak banget tuh makan di lesehan sambil memandangi persawahan. Kayak piknik. Rumah makan ini juga self service. Ngambilnya sesuai kemampuan. Ada beberapa antrian, antrian ambil nasi +sayur, antrian ambil telur dadar, antrian pisang goreng dan antrian minum. Ada nasi putih dan Sego megono, makanan khas pantura yaitu nasi yang sudah dicampur sayur dan lauk lainnya. Pilihannya sayur banyak. Ada sayur Lodeh Tempe, Lodeh Terong, Lodeh Keluwih dan sayur Asem. Sayang saat saya ngantri, sego megononya sedang habis. Untuk mengoptimalkan waktu, saya ngantri sendiri di bagian nasi+sayur, Aya ngantri di bagian telur dadar, yang lain nyari tempat duduk. Nasi saya ambil banyak di satu piring, Sayur juga ambil semua jenis sayur di beberapa piring. Driver yang bawa ke meja tempat kita makan. Antrian telur  dan pisang yang cukup lama. Makanannya sih sederhana tapi enak, antriannya yang jadi sensasinya. Di dinding rumah ini, banyak sekali testimoni dari artis-artis yang makan disini. Setelah makan, baru bayar sesuai yang kita sampaikan. Diperlukan kejujuran disini. Nasi+sayur  di hitung 11,500per orang. Yang lain dihitung per satuan seperti telur dadar, kerupuk, minum dan pisang goreng.

2. Sate Klatak Pak Pong.

Niat makan disini kami urungkan setelah kami liat antriannya lama sampai bisa makan. Saat mau order, mbaknya bilang  harus nunggu sekitar 2.5jam setelah pesan. Yah gak jadi deh. Yang menjadi khas disini adalah sate klathak/sate kambing dengan potongan besar yang menggunakan jeruji sepeda sebagai tusuk satenya. Ada juga tongseng dan gulai. Lokasinya di Jalan Imogiri Timur Km 7, Wonokromo, Bantul, DIY menuju ke hutan pinus Mangunan, rumah makannya ada yang sebelah kanan dan kiri.  Kami memutuskan untuk mampir makan di salah satu warung yang kami lihat ramai di sepanjang perjalanan ke Hutan Pinus. Jadinya makan di Sate Kambing mbak Bella di sebelah pasar Imogiri lama. Kurang maknyus sih menurutku, satenya agak mentah. Untuk anak-anak kurang cocok karena bumbu merica halusnya agak banyak sehingga terasa pedes. Gulainya lumayan mengundang selera.

3. Abhayagiri Restaurant

Dari hutan pinus kami terus menuju Abhayagiri Restaurant, tidak melewati jalan sewaktu kesini. Ini pun tembus Yogya tapi agak mutar. Driver kita yang ngasih referensi tentang resto ini. Katanya paling bagus menikmati sore hari, bisa lihat Gunung Merapi dan di malam harinya bisa lihat Prambanan yang bercahaya.  Sayangnya begitu sampai di restoran ini, sudah gak terima pengunjung lagi. Ada insiden dapurnya kebakaran kalo gak salah.

4. The House of Raminten

Rumah makan ini berada di tengah kota Yogya. Saat mau kesini, susah banget dapat mobil online. Ditolak melulu, jadinya saya berinisiatif jalan sedikit untuk tembus ke Jalan Bhayangkara. Pikir saya, mungkin mobil online mau ngambil kalo disini. Tetap gak ada juga, nyetopin delman minta 150ribu untuk jarak 2km. Pake becak minta 100ribu. Mau jalan kaki, suami gak demen. Akhirnya dapat taxi, si supir taxinya bilang ongkos taxi minimum 25ribu. Gak apa-apa pak, yang penting kami diangkut. Pulang dari Raminten menuju de Mata, cepat dapat pesanan Gocar. Saat drivernya menelpon untuk konfirmasi, saya langsung cepat-cepat bilang ntar ongkosnya ditambahin. Daripada ditolak hehehe.

15844045_10208673365495517_2006769244301612122_o

with mbak waitress the House of Raminten

Kaget juga saat masuk rumah makan ini, penuhh banget. Waiting listnya panjang. Ada kursi untuk menunggu kira-kira 20 seat dan masih ada beberapa yang menunggu sambil berdiri. Sambil menunggu, saya melihat-lihat menu. Supaya begitu dapat tempat duduk, bisa langsung order. Aya minta dibelikan coklat Raminten, kemasannya menarik, ada coklat anti galau, coklat tolak miskin. Kemudian saya juga membeli krupuk dan gudeg kalengan. Krupuknya langsung dimakan, gudeg kalengannya mau disimpan buat trip UK. Masih 3 bulan berselang hehehe, tapi expirenya masih jauh kok. 45menit menunggu, akhirnya dipersilakan duduk sama mas-mas berpakaian khas Jawa. Untuk orderan diurus sama mbak-mbak berpakaian khas Jawa juga. Kebetulan yang menerima order kita, mbaknya cantik. Hehehe. Order langsung bayar sama mbaknya.

Pantasan rame, makanan minuman disini gak terlalu mahal dan banyak ragamnya. Hampir semuanya ada. Sate, Soto, Sego (nasi) kucing, Sego Goreng, Sego Liwet, Rawon, Bakso, Pepes, Kupat tahu, Pecel. Banyak yang kita pesen, yang diingat cuma es dawet dalam gelas bertangkai yang besar. Soal rasa makanan dan minumannya, biasa saja sih. Sekali lagi kayaknya sensasi ngantrinya yang bikin The House of Raminten populer.

5. Gudeg Pawon dan Gudeg Yu Djum asli. Sudah saya tuliskan disini.

Masih banyak lagi kuliner yang belum sempat dikunjungi, ada Jejamuran, Bale Raos, Bukit Bintang, Gudeg pinggir jalan (lupa namanya) dan sebagainya. Waktu dan kemampuan perutlah yang membatasi kita. Kalo ada rekomendasi tempat kuliner di Yogya dan sekitarnya, tulis di komentar ya.

Foto-foto lain menyusul ya, ada di laptop yang ada di Makassar.

Advertisements

10 thoughts on “Kuliner di Yogya dan sekitarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s