JALAN BARENG MAK-MAK SERTA ANAK-ANAK KE KL N SINGAPORE

Februari lalu, saya jalan jalan ke singapore n kl nemenin teman teman mantan tetangga di palu. Rombongan kami 11orang, 6 dewasa 5anak anak, harusnya lebih dari itu. 5 orang mengundurkan diri karena berbagai alasan. Perjalanan ini udah direncanakan sejak april tahun lalu, tiket airasia mks-kl-sin-kl-mks terbeli dengan harga sekitar 850rb rupiah. Namun beberapa orang membeli tiket rute yang sama sekitar 3,3jt per orang, 1 bulan sebelum keberangkatan. Anak anakku termasuk yang membeli tiket semahal itu. Awalnya memang gak ada rencana untuk mengajak mereka jalan, toh mereka udah beberapa kali kesana, cuman sejak hidup terpisah dengan mereka, rasanya berdosa banget sy punya waktu luang tapi sy gak memanfaatkan waktu untuk bersama mereka. Jadi di bela-belain ngajak mereka supaya bisa berlibur bersama mereka meski kantong meringis. Karena ini grup emak emak beserta anak anak, perjalanan gak full backpacker ala sy. Biasanya sy, suami n anak anak nginap di hostel. Mereka susah mau diajak tidur di hostel, karena kamar mandi luar dan pasti ribut. Nginap dihostel harus banyak toleransi dengan penghuni lainnya. Untuk akomodasi di kuala lumpur, saya booking hotel yy38 via http://www.asiarooms.com untuk 3 kamar selama 3malam. Harganya 375rb per kamar per malam untuk 2orang tidak termasuk sarapan. Hotel yy38 terletak di area bukit bintang. Booking hotel online, mesti penuh pertimbangan. Kadang kadang foto yang ditampilkan tidak sesuai dengan aslinya dan harga tiap website penjualan voucher hotel bervariasi, jadi harus membandingkan antara agoda, airasiago, booking.com, atau asiarooms. Untuk hotel di kl, saya selalu memilih hotel di daerah bukit bintang, dekat mall, dekat monorail, gampang cari makan dan selalu rame. Untuk tambahan referensi, sy rajin menyimak review dari orang orang yang pernah tinggal di hotel itu. Tadinya mau nginap di genting tapi gak jadi. tanggal yang kami pilih rupanya tanggal super peak season. Harganya 2x lipat dibanding hari biasa. Untuk akomodasi di singapore, sy booking tai hoe hotel untuk 2 malam. Hotel ini sedikit unik, karena gak ada website penjual voucher hotel yang menawarkan hotel ini, tapi referensi milis dan blog personal banyak merekomendasikan. Jadi penasaran, apalagi dekat mall, dekat mustafa dan dekat mrt. Proses booking sedikit bermasalah, sy email emailan dengan hotel ini sampai sy menginfo detail kartu kredit untuk jaminan, tp setelah itu gak ada konfirmasi, ditambah dengan banyak file email yang hilang entah mengapa, mungkin karena virus. Gara gara itu, kartu kredit yg sy info itu sy blokir untuk menjaga kemungkinan kartu kreditku disalahgunakan. Untuk transportasi di kl, antar jemput bandara ke hotel pp dan tour 1/2 hari, sy nyewa van via http://www.jalanjajanhemat.com. Selebihnya jalan naik monorail atau lrt. Untuk transportasi di singapore, pake mrt n taxi. Voucher universal studio singapore, juga beli online. Tiket theme park genting juga bisa beli online tapi diputuskan beli ditempat disesuaikan dengan kondisi nanti. Kalo hujan, outdoor themeparknya ditutup, sayang kan kalo udah dibeli gak dipake. Day 1 Meeting point di bandara st hasanuddin. Tiba di lcct sekitar jam 9 malam, mobil van yang menjemput kita juga sdh standby untuk ngantar ke hotel. Setelah check in, kami keluar melihat suasana bukit bintang sekaligus mencari makan. Di alor street, banyak penjual makanan, namun gak semuanya halal. Kami memasuki warung yang pelayannya ada yang berjilbab. Rasa makanan sih biasa, jauh lebih enak masakan indonesia.

TRIP DAY 2: KL – HO CHI MINH CITY

KAMIS, 17 FEBRUARI 2011

Sebelum ke bandara, kami mau menyempatkan diri berfoto di Petronas dan KL Tower. Jadi pagi-pagi kami sudah bangun, beres-beres, sarapan lalu berangkat. Udah janjian dengan Suhuri untuk jalan bersama. Tadinya mau naik taxi, ternyata pagi-pagi taxi pada sibuk semua. Yang biasa mangkal di halte depan hostel pun tak ada. Setelah beberapa lama, akhirnya kami memutuskan untuk naik monorail saja. Sempat ada kejadian, kartu ATM Mandiri-nya Mia tertelan pada saat mau narik uang di ATM Maybank, jadi Mia memutuskan gak ikut dengan kami karena mau menunggu sampai Bank Maybank buka dan mengurus ATMnya.

Naik monorail ke Bukit Nanas, nyambung Kelana Jaya Line (MRT) di station Dangi Wangi, trus turun di KLCC. Twin Tower udah di depan mata. Kami hanya sebentar cuma berfoto-foto, karena masih mau ke KL Tower dan view Petronas yang lainnya. Kami naik taxi aja, tujuannya balik ke hostel tapi minta singgah di dua tempat tadi.

Kami masih sempat masuk Sungai Wang Plaza, niatnya mau liat-liat Vincci, tapi belum buka. Waktu memang belum jam 10. Iseng-iseng liat BB 9300/kepler harganya murah banget hanya 599RM, pas ditanya apa bisa dipake di Indonesia, penjualnya bilang hanya bisa dipakai di Malaysia. Paketan dengan kartu telepon operator sana, seperti bb bundling telkomsel, xl dan sebagainya.

Jam 11.30 kami check out, taxi yang kami order untuk ke bandara sudah menunggu dari tadi. Supir taxi yang kami order ini kenalannya Narni, sekampung ama Narni di Enrekang, tapi sekarang sudah menjadi WN Malaysia.

Phian, suaminya Hesni juga sudah ada di LCCT menunggu. Dia berangkat pagi tadi dari Jakarta.

Di ruang tunggu bandara, sambil menunggu boarding, pada menukar US Dollar ke Vietnam Dong. Kurs disana 1US=16,000VND. Saya gak tertarik menukarnya, feelingku mengatakan nanti saja kalo sudah sampai disana.

Tiba di bandara Tan Son Nhat, Ho chiminh City, kami celingak celinguk mencari penjemput kami. Gak sulit dicari karena penjemput kami itu udah menulis namaku di kertas ukuran A4.

Perjalanan dari airport ke kota kurang lebih 45 menit. Kesan pertama, kota ini semrawut, lalu lintasnya kacau, penuh dengan sepeda motor. Apalagi kalo melihat jaringan listrik yang bener-bener seperti benang kusut. Kami cuma mengurut dada, menahan nafas melihat tingkah supir kami yang ugal-ugalan. Sony aja yang duduk depan sampai stress. Ditambah kami yang agak kagok berada di mobil bersetir kiri. Sering, secara refleks, sy atau teman sy yang mau duduk didepan ke pintu sebelah kiri.

Mobil yang membawa kami berhenti di depan gang. Oalah ternyata Hotel Phan Lan yang kami booking terletak di gang sempit, kendaraan roda empat gak bisa masuk. Jarak dari jalan besar gak terlalu jauh sih sekitar 50 m. Di dalam gang itu memang semuanya hotel-hotel kecil yang berjumlah kurang lebih 25 hotel. Sebenarnya gak tepat juga kalau di bilang hotel, yang tepat adalah wisma/guesthouse. Namun mereka pe-de dengan sebutan hotel. Hotel Phan lan menjadi pilihan saya, karena hotel ini cukup banyak direkomendasikan di milis, websitenya menawan, harganya reasonable, komunikasi dengan hotel ini mudah dan menyediakan antar jemput bandara dengan harga reasonable. Sebelum memutuskan hotel mana yang dibooking, sy banyak membandingkan hotel dari sisi harga, lokasi dan review orang-orang yang pernah tinggal di hotel tersebut. Dan harga hotel di HCMC agak mahal, di http://www.agoda.com harga hotel standar *2 min 400rb/malam. Sy booking 4 kamar di hotel Phan Lan, 2 kamar triple, 1 kamar double n 1-nya lagi kamar single dan request kamarnya di lantai 1,2,3 aja. Kamarnya sih ok. Harga 31USD/orang untuk 2 malam termasuk transfer airport pp. You get what you pay alias ada harga, ada mutu.

Harga tukar USD ke VND di hotel lebih bagus dibanding di airport LCCT, disini 1 USD=21,000VND.

Setelah istirahat sejenak, dan diskusi untuk memutuskan apa yang akan kami lakukan besok, kami lalu keluar jalan kaki buat cari makan dan ke pasar benh thanh. Tapi kami salah arah, jadi mutar-mutar gak keruan. Kami taunya jalan tempat kami diturunkan tadi dari bandara, eh gak taunya ada juga jalan sebelahnya. Jadi dari hotel itu bukan ke arah sebelah kanan harusnya ke arah sebelah kiri. Makanya kaki udah pegel banget dan bertanya 1000x dengan bahasa tarzan, gak juga nyampe-nyampe.

Baru tau kalo tadi mutar-mutar, setelah naik taxi pulang dari benh thanh dan diturunkan di tempat berbeda dengan tempat awal kami keluar. Huhhh. Kami diturunkan di jalan Pham Ngu Lao, jalan besar di depan taman. Alamat Hotel Phan Lan adalah Pham Ngu Lao Street 283/6 (baca lorong 283 no 6). Seandainya dari airport turun disini, mungkin kami gak kebingungan arah.

Akhirnya sampai juga di pasar malam benh thanh. Di depan pasar ada penjual ketan warna-warni, kuning, orange, hijau. Kami yang mencoba yang warna kuning tertarik sama bau duriannya, harganya USD 1. Rasanya biasa saja. Pengen wisata kuliner, tidak memungkinkan. Gak halal soalnya. Makanannya khas sana adalah pho dan yang terkenal adalah pho 2000 tempat bill clinton makan pho, pho itu sejenis mie kuah. Dapat informasi dari yang pedagang jualan jilbab di pasar itu bahwa tidak ada halal food di sekitaran sini. Kami memutuskan setelah belanja, kami makan di restoran Vietnam Halal yang kami lewati tadi.

Rame juga restoran itu, kelihatan orang Malaysia yang punya, karena menunya menu Malaysia. Harga juga lumayan. Untuk seporsi Nasi Goreng Udang dan teh tarik, harganya 95,000VND. Narni memesan nasi putih untuk dibawa pulang ke hotel. Narni ternyata udah menyiapkan lauk yang dibawa dari Indonesia seperti tempe, sambal terasi, pop mie. Ulil bawa abon. Hehehe, solusi tepat saat kelaparan dan bingung mau makan apa.

to be continued…..

TRIP DAY 1 MAKASSAR-KL

16 Feb 2011

Sy udah berangkat dari Palu sehari sebelumnya, antisipasi kalo terjadi delay/cancel yang bisa menghalangi perjalananku. Entah mengapa, Lion hari itu delay sampai 6 jam. Harusnya berangkat jam 2 siang, jam 8 malam baru take off. Untung berangkat di H-1, gak kebayang deh kacaunya kalo daku gak jadi berangkat secara trip ini sebagian besar sy yang ngurusin.

Pagi-pagi nganterin Melia adikku ke airport yang mau pulang ke Ternate, kemudian balik lagi ke kota menghabiskan waktu sampai tiba waktu ke airport.

Saya janjian sama Darma n Sony di Hotel Denpasar, lalu sama-sama ke airport. Di airport, satu persatu mulai muncul. Marcy yang baru berangkat pagi itu dari Ambon, juga sudah menampakkan diri.

Sedangkan Suhuri dan keluarganya, berangkat dari Jakarta.

Setelah selesai proses drop bagasi, verifikasi paspor, verifikasi tiket pulang, serta bayar airport tax 100rb, kami pun antri imigrasi. Pesawat berangkat jam 17.30 setelah delay sekitar 30 menit.

Keluar dari bandara LCCT, jalan menuju ke arah area foodcourt LCCT, disanalah halte bus yang menuju kota. Pilihannya ada Skybus milik Airasia group dan ada Aerobus. Kami naik Aerobus (lebih murah 1RM dari skybus) seharga RM 8/orang menuju KL Sentral. Dari KL Sentral ke Bukit Bintang naik taxi. Nawar taxi dan deal 15RM/taxi. Gak perlu menjelaskan panjang lebar ke supir taxi tentang dimana kami tinggal malam itu, cukup menyebutkan bahwa kami ingin turun di Mc Donald Bukit Bintang. Tempat itu jadi patokan, karena disebelah Mc D itulah tempat kami akan menginap. Namanya Sunshine Hostel Bed n Breakfast. Biasanya sy menginap di Paradiso Bed n Breakfast yang berada disebelah kiri McD, nah untuk kali ini sy mencoba sunshine yang berada di sebelah kanan McD. Di http://www.hostelworld.com , rating paradiso agak turun, dan rating sunshine agak tinggi. Sunshine baru aja di renovasi full. Jadi pasti lebih nyaman. Tempatnya ok, kalo cuman dijadikan tempat bobo sudah lebih dari cukup. Kamar full karpet yang masih baru, tempat tidur masih baru, free wifi. Kecuali kalo pengen berenang atau berendam, ya gak bisalah di tempat ini. Kamar mandinya sharing alias kamar mandi luar. Tapi sesuailah dengan harganya yang cuma 93rb-an/orang/malam. Dan udah termasuk sarapan sederhana, roti, selai, the dan kopi. Untuk review lebih lanjut tentang sunshine baca disini.

Seperti hostel pada umumnya, disini ada 2 type kamar private n dormitory. Kamar private, bayar seharga 1 kamar. Kalo dormitory, bayarnya per tempat tidur. Milih tidur di dorm berarti harus siap sekamar dengan orang lain. Karena kami berdelapan, saya booking 1 tempat tidur di dorm cewek 4 tempat tidur (4 bed female dorm) buat saya, dan 1 tempat tidur di kamar cowok 4 tempat tidur buat sony, sy booking 1 kamar cewek dengan 6 tempat tidur untuk sisanya. Saya sekamar dengan cewek korea, Sony sekamar dengan bule ntah dari mana.

Setelah check in dan naruh barang, kami bergegas mencari makan malam. Waktu udah menunjukkan jam 10 malam, sepiring nasi lemak dan teh tarik membuatku cukup kenyang, ditambah tester dari piring sebelah kiri dan kanan. Gak berlama-lama disini meski ada live music yang mendendangkan banyak lagu Indonesia, karena teman-teman masih pengen nyari beberapa oleh-oleh khas Malaysia disekitar sini dan juga pengen ke Hard Rock Cafe. Ke Hard Rock Cafe kami mencoba mengukur jalan alias jalan kaki sekitar 20 menitan dengan berjalan pelan. Naik Monorail juga bisa, hanya 1 stop-an dari Station Bukit Bintang, turun di Bukit Nanas, HRC udah dekat banget dari situ. Cuman Monorail jam operasinya cuman sampai jam 11.30, secara kami kesana udah lewat tengah malam. Pulangnya baru naik taxi ke hostel.

SUNWAY LAGOON

Day-4, Rabu, 19 Mei 2010

Alhamdulillah ada email konfirmasi pembelian tiket Sunway, tapi tiketnya harus diprint out. Di hostel gak ada fasilitas printer yang ada fasilitas pc internet n free wi-fi, jam 7pagi, warnet disebelah hostel belum buka, akhirnya jalan-jalan dikit, ada warnet, harus bayar sewa internetnya + cetakan per lembar. Total 7RM. Yang jelas tetap masih lebih murah beli online.

Kami sekalian check out dari hostel, tapi barang-barang sebagian kami titipkan di hostel tersebut, karena dari Sunway Lagoon mau langsung ke bandara menuju Singapore. Untuk biaya titip RM6, tadinya kami mau titipkan di tempat penitipan di KL Sentral. Harganya 5RM untuk tas besar, RM3 untuk tas kecil/hari. Jadi pikir punya pikir, masih lebih murah titip di hostel.

Barang yang kami bawa adalah pakaian berenang dan pakaian selama sehari di Sg.

Tadinya kami mau naik taksi, karena belum ada info mengenai kesana dengan bis. Kalo naik taksi langsung ke Sunway sekitar RM40. Tapi iseng-iseng search di internet dengan kata kunci ”how to go to … from ….”. Ternyata dapat info bahwa ada bis no U76 yang langsung ke Sunway dari KL Sentral. Ya udah mari kita coba. Kami naik Monorail ke KL Sentral, trus di pintu keluar Monorail ada halte bus untuk bus U76 yang ke Sunway. Cuma bayar RM7.5 untuk semua. Sy pengennya anak-anak terbiasa dengan segala moda transportasi. Naik bis ayo, naik taxi juga ayo. Dengan naik bis juga membiasakan diri untuk lebih banyak bertanya atau berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Lebih hemat dan jadi tau jalan.

Sampai di Sunway, belum buka tapi sudah terlihat antrian panjang untuk masuk. Enaknya beli online, loketnya khusus jadi sisa menunjukkan print out, bayar deposit RM50 sebagai jaminan untuk 5 gelang tangan (wristband tag) , ada gelang tangan seperti jam sebagai tanda masuk yang harus dipakai selama di Sunway.

Ganti baju, ada fasilitas sewa locker penitipan barang, sayangnya hanya bisa dipakai n dibuka sekali aja, jadi kalo butuh barang yang ada di locker, harus bayar sewa lagi kalo tetap mo naruh barang-barang nanti. Kami sih biar lebih flexible, barang2 ikut kemana aja pergi. Tempatnya luas banget.

Rekomendasi teman-teman yang sudah kesana, kurang berkesan. Jadinya sy juga gak berharap akan senang-senang disana, tapi berhubung promosinya luar biasa (Malaysia gitu lho, hal biasa jadi luar biasa) dan secara sy belum pernah kesana, jadi biar aja deh kesana. Ternyata, cukup berkesan, sayang kurang lama disana. Kami tidak sempat menjajal amusement park.

Jam buka: 11.00-18.00. Tutup setiap hari Selasa, kecuali hari libur nasional & selama liburan sekolah. Anak tinggi 90cm <3tahun free. Tidak diperbolehkan untuk bawa makanan dan minuman. Di pintu masuk, tas akan diperiksa untuk memastikan makanan gak ada yang dibawa. Untuk minum, sediakan aja botol kosong, karena di dalam banyak tersedia dispenser air dingin dan panas.

Ada 5 park di Sunway Lagoon:

Water Park (Water of Africa)

Amusement Park (World of Adventure) sejenis Dufan

Wild Life Park

Extreme Park

Scream Park (Wild Wild West)

Kami mengambil paket 3 park: Water Park, Amusement Park, Wild Life Park. Ini aja tidak semuanya bisa kami jelajahi. Kami bermain di Water Parknya sampai puas. Yang menarik di waterpark adalah Congo Challenge, antri kemudian mendapat matras dan menuju ke puncak kemudian meluncur dengan badan rapat diatas matras. Seru!!! Kalo Cameroon Climb dan African Phytons, meluncur berpasangan diatas ban. Ayha minta terus main disini. Sayang antriannya panjang.

Setelah berganti pakaian, kami berjalan mengelilingi sekitar hanya sekedar melihat-lihat di entrance wild life. Koleksi binatangnya lumayan dan unik-unik.

Kemudian bermain 2 wahana dari 9 di amusement park yaitu Apache Pots dan Pirate’s Revenge. Apache Pots adalah wahana yang terdiri dari beberapa cawan besar. Untuk bermain, kita naik dan duduk dicawan besar kemudian diputar-putarlah kita seperti gasing. Di Pirate’s Revenge, cuma K’Idrus yang berani naik. Wahana ini seperti Kora-kora di Dufan yaitu perahu yang awalnya diayun pelan dan makin lama makin kencang, hanya saja wahana lebih extreme dari Kora-kora karena mutarnya 360 derajat bo’!!!! Oh no, i will say no thanks to ride this game.

Sayang waktu harus membatasi kami, padahal masih banyak wahana yang menarik dan menantang seperti berjalan dijembatan gantung yang panjang (Pedestrian Suspension Bridge).

Jam 2siang, kami sudah keluar dari Sunway Lagoon, singgah di Sunway Pyramid, mall besar yang terletak di samping Sunway Lagoon untuk cari makan. Setelah itu nyari taxi menuju Bandara. Ada taxi counter, ongkos ke bandara RM140. Ugh mahal amat, jadi kami pesan taxi ke KL Sentral RM32, dari situ baru lanjut naik bis ke bandara. Tapi di taxi, supir taxinya nawarin tambah RM50 kalo mau diantar langsung ke bandara. Deal, yang penting all-in.

Perjalanan ke bandara jauh juga, kurang lebih 1 jam 15 menit baru nyampe. Gak perlu lagi antri check-in. Karena sudah ada check in kiosk di LCCT, tapi tetap harus validasi di counter check in, hanya saja tidak ada lagi antrian panjang.

Di bandara Changi, kami menuju kota dengan naik MRT. Hotel yang sy booking Fort Canning YWCA Hotel, *** harga 850rb/malam. Yeah, hotel di Singapore mahal-mahal, tapi hotelnya dekat dengan MRT Dhoby Ghout. Penampakan hotelnya sih biasa aja, terkesan tua dan suram. Alasan sy milih hotel ini, biar ada kesempatan jalan-jalan ke Fort Canning Park, menyeberangi taman tersebut kemudian menyusuri Clarke Quay. Sayang gak terwujud, yang lain pada malas jalan.

Malam itu, kami ke Mustafa Centre, toko serba ada yang buka 24 jam. Yang pastinya beli coklat. Parfum gak dulu deh, secara stok masih ada. Beli susu cair buat anak-anak, karena susunya sudah habis.

GENTING HIGHLAND

Day-3, Selasa, 18 Mei 2010

Hari ini kami mau ke Genting, sayang kami gak dapat penginapan di Genting biar bisa lebih lama disana. Untuk booking hotel sebaiknya jauh-jauh hari, disana cuma ada 4 hotel, Hotel First World dengan 6,118 kamar aja selalu penuh. Gak terlalu mahal juga kok, sekitar 375rb/kamar/malam termasuk sarapan pagi. Karena besok mau ke Sunway Lagoon, sy beli tiket masuknya via online. Untung agak cepat, karena booking online ternyata membutuhkan waktu 24jam untuk konfirmasi apakah tiketnya terbeli atau tidak. Harganya lebih murah ketimbang go show. Harga untuk entry 3 park beli langsung RM 80/adult, RM65/child, kalo beli online jadi RM60/adult, RM48/child. Naik monorail ke KL Sentral RM2.1, trus beli tiket bus ke Genting. Cuman bisa beli one-way aja, itupun yang berangkat jam 12siang. Tiket balik yang turun di KL Sentral sudah habis terjual, Padahal waktu masih menunjukkan pukul 9pg. Harusnya kemarin belinya, toh turun di KL Sentral. Ada 2 loket pembelian bis, 1 di dalam KL Sentral, 1-nya lagi di dekat tempat turun bis dari bandara LCCT. Jadi kalo niat ke Genting naik bis, belilah tiket busnya sehari sebelumnya. Sambil menunggu waktu keberangkatan, kami nongkrong di KFC, abis itu pindah ke McD cuman sekedar makan es krim. Harga tiket one way RM8.80 sudah termasuk bis dan tiket kereta gantung. Jarak tempuh 51km dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Sekilas mengenai Genting Highlands atau Tanah Tinggi Genting (2000 m di atas muka laut) adalah puncak gunung dari pegunungan Titiwangsa di Malaysia serta menjadi tempat resort terkenal dengan nama yang sama. Berada di perbatasan negara bagian Pahang dan Selangor, tempat ini dapat dicapai dengan satu jam berkendara roda empat dari Kuala Lumpur atau melalui kereta gantung Genting Skyway yang saat ini merupakan yang tercepat di dunia dan terpanjang di Asia Tenggara). Genting Highlands didirikan oleh Lim Goh Tong dari Fujian, Cina di awal tahun 1960-an. Dikenal sebagai Las Vegas-nya Malaysia, tempat ini merupakan satu-satunya tempat berjudi daratan yang legal di Malaysia serta dioperasikan oleh Resorts World Bhd, anak perusahaan Genting Group atau Genting Bhd. Resort ini juga memiliki beberapa hotel yaitu Hotel Genting, Hotel Highlands, Hotel Resort, Hotel Theme Park, Awana Genting, dan Hotel First World. Hotel First World memiliki 6.118 kamar, menjadikannya hotel kedua terbesar di dunia saat ini. Fasilitas lainnya ini adalah theme park, lapangan golf, mall perbelanjaan, simulator sky diving, hall konser dan masih banyak lagi. Sumber: Wikipedia Untuk info genting lebih lanjut, cek disini http://www.rwgenting.com/ Tiba di Genting, beli tiket permainan theme park outdoor n indoor beli paket family (2adult+2child) ditambah 1 tiket adult seharga RM210. Anak-anak bermain dengan papanya, trus saya sama Amel pergi cari tau dulu, gimana cara kami pulang sebentar. Kami ke stasiun bis Genting, ada bis ke kota tapi turunnya di Terminal Titiwangsa, ya udahlah ambil yang itu. Menurut informasi, dari Titiwangsa bisa langsung naik monorail ke Bukit Bintang. Harganya juga lebih murah dari yang tadi, karena pulang gak naik cable car lagi. Lagian siapa yang mau gelap-gelapan naik cable car ntar kalo macet, gimana. Malah jual juga karcis no seat, alias harus berdiri sepanjang perjalanan. Di stasiun bis, bagi yang mau langsung ke Singapore juga ada. Bagus juga, jadi gak perlu bolak balik Kuala Lumpur. Bagus juga tuh rute, Makassar-KL (Airasia)-Genting-Singapore (bus) –KL (bus atau Airasia)-Makassar (Airasia). Setelah beres urusan pulang, kami bermain-main di Genting. Sayang cuaca gak mendukung, sebentar hujan, sebentar reda, dan akhirnya kami memutuskan untuk main di indoornya aja. Ugh sayang uangnya. Yang senang, pastinya ayha n Dede. Sebelum pulang, kita mutar-mutar cari makan, bingung mau makan dimana. Akhirnya mutusin makan di Hotpot, lagi ada promo hotpot n barbeque makan & minum sepuasnya. RM25/orang. Bebas ngambil sepuasnya, pilihannya ada sukiyaki, udang segar, kerang, ayam segar, nasi goreng, mie dan produk seafood lainnya. Pilihan kuahnya ada tomyam atau kaldu ayam. Yang dimaksud minum sepuasnya, pilihannya cuma teh tawar. Trus ada buah segar juga sepuasnya. Next time kalo ke Genting, ini akan jadi pilihan favorit tempat makan. Setelah tiba kembali di hostel, setelah anak-anak tidur, sy sama K’Idrus keluar jalan-jalan sekitar hostel. Pengen nyari celana pendek buat K’Idrus, persiapan buat renang di Sunway besok. Beli pashmina murah cuman RM 16 dua helai, sekaligus beli titipan souvenirnya Ida, dan duduk-duduk lagi di cafe yang kemarin. Sampai di kamar, iseng-iseng ngecek website Airasia, lagi ada promo 0 rupiah. Wow, pucuk dicinta ulam tiba. Disaat sy punya credit shell Airasia akibat pembatalan tiket Bangkok, yang harus dimanfaatkan untuk beli tiket segera, ada promo. Sampai jam 3 pagi, eksekusi tiket untuk penerbangan tahun depan. Kapan dan kemana? I will keep my mouth shut up. Murah!!! berlima 2,7jt untuk 5kali terbang, udah termasuk airport tax.

NYANTAI DI KL CITY

Jam 9pg, kami check out setelah sarapan di kamar setelah masak-masak dengan travel cooker. Ternyata ada shuttle bis dari Tune Hotel ke LCCT, sopirnya minta RM1/orang. Dari pada jalan kaki, eh supirnya orang bugis yang udah lama merantau ke Malaysia. Dari LCCT kami naik Aerobus ke KL Sentral RM8/adult, RM4/child. KL Sentral merupakan pusat sarana transportasi kereta antar kota/negara bagian. Dari bandara KLIA atau LCCT naik kereta express namanya KLIA express turunnya juga di KL Sentral. Di KL Sentral, kami naik taxi menuju kawasan Bukit Bintang RM 15. Rencana mau go show nyari penginapan. Kami ke Paradiso Bed n Breakfast, hostel yang pernah kami tempati dulu, ternyata kamar untuk berempat-private untuk 2 malam tersedia, malah lebih murah ketimbang booking di http://www.hostelworld.com dengan harga RM32/orang/malam atau Rp 85rb/malam/orang.

Makan siang, beli lauk pauk+KFC, lalu makan di kamar. Di sekitar hostel banyak penjual nasi n lauk pauk, trus sebelah hostel ada Mcd. Sekalian nyari mini market, beli telur, beli sabun cuci, mie instan. Kenapa harus repot-repot masak? Sebenarnya ke KL gak perlu repot bawa travel cooker sih, karena makanan gampang ada dimana-mana, cuman sekalian menjajal kebolehan travel cooker yang baru dibeli. Ternyata bagus, bentuknya compact, praktis dan masaknya cepat. Kalo jalan di daerah yang kita gak kenal, susah nyari makanan halal, dimana Mcdnya pun gak sedia nasi perlu bawa travel cooker seperti di Singapore, Hongkong n etc. Memang sih agak ribet, tapi mengacu ke pengalaman kami ke Hongkong tahun lalu, dimana susahnya cari nasi dan belum tentu murah.

Setelah makan siang, naik bis bayar RM1 ke China Town Petaling Street, Amel pengen nyari tas. Kata saya sih, harga tas disana standar, Kalo gak pintar-pintar nawar, kena harga mahal juga. Sy paling malas buat nawar-nawar, mending nyari harga yang pasti-pasti aja atau yang sudah tertempel. Sisa nyari perbandingan harga untuk model yang sama. Lalu jalan kaki ke Pasar Seni (Central Market). Disini kalo mau membeli souvenir khas Malaysia, ruangannya adem karena ber-AC, segala pernak-pernik termasuk made in Indonesia pun dijual disini. Sy beli gelang tangan dari manik-manik yang unik. Setelah itu menyusuri jalan menuju ke Masjid Jamek dan Lapangan Merdeka. China Town, Pasar Seni, Lapangan Merdeka berdekatan. Pengen ke Masjid Jamek yang dekat situ, tapi ternyata harus jalan memutar padahal kami hanya dipisahkan oleh sebuah kanal, seandainya ada jembatan penghubungnya. Di Lapangan Merdeka, kelihatannya akan ada acara besar seperti Pasar Seni yang malam puncaknya di Malam Minggu. Dari situ naik taxi pulang ke hostel RM 12, taxi di Malaysia sangat jarang yang ber-argo, maunya harus pake tawar menawar. Jadi prinsip naik taxi di Malaysia, tawar dulu, biasanya sy pake patokan harga 2x lipat ongkos naik bis untuk berempat.

Malamnya, ke Sungai Wang Plaza, just looking-looking, susah juga mau belanja coz memikirkan gimana bawanya di samping budget yang pas-pasan. Di area Bukit Bintang, ada cafe tenda yang menyediakan live music yang menarik banget, setiap kita di Bukit Bintang pasti kesini, menikmati es teh tarik dan nasi lemak khas Malaysia

KL lagi, KL lagi

Bosen sih, tapi apa mau dikata. Semua rencana perjalanan tahun ini berantakan semua. Berawal dari rencana ke Melb sama Amel, batal karena masalah visa. Kemudian rencana ke Bangkok, dengan sangat terpaksa, saya batalin mengingat sikon Bangkok yang sangat tidak kondusif. Saya sebenarnya masih berbesar hati mau kesana meskipun K’Idrus n Amel sudah kuatir, karena sampai meninggalkan Palu pun hari Jumat, 14 Mei 2010, belum ada niat untuk membatalkan. Nanti setelah mendapatkan informasi kalo hotel yang saya booking ternyata berada di area ”life firing zone” alias kawasan baku tembak, beberapa jam sebelum berangkat ke KL, akhirnya kami putuskan rencana tersebut dibatalkan. Telpon AirAsia, tiket KL-Bangkok-KL bisa dibatalkan, tapi tidak bisa dikembalikan secara tunai melainkan system credit shell. Maksudnya refund-nya hanya dapat dipergunakan untuk pembelian tiket Air Asia tujuan lainnya yang harus diissued dalam kurun waktu 3 bulan terhitung sejak tanggal pembatalan. Ya gpp, bisa dipake buat rencana perjalanan tahun depan. Kemudian pembatalan booking Baiyoke Sky Hotel yang saya beli melalui http://www.agoda.com , ternyata untuk melakukan pembatalan harus melalui e-mail ke mereka karena pembatalan dilakukan <2hari sebelum tgl kedatangan (kalo >2hari bisa langsung di website-nya aja, sisa potong biaya administrasi sekitar US$15). Setelah itu dibatalkan cuman sehari. Ya sudahlah, yang penting masih ada yang kembali dicreditkan meski hanya 50% atau hanya US$75 dari US$150. Tapi sayang juga sih, karena gak jadi nginap di hotel tersebut, karena pertimbangan sy memilih hotel tersebut, karena lokasinya yang sangat strategis, merupakan hotel yang tertinggi di Bangkok, bintang 4 lagi.

Kami memulai melakukan perjalanan lewat darat Palu-Makassar via Mamuju (Jumat, 15/5) dengan jarak kurang lebih 950km setelah sy pulang kantor. Sebenarnya paling tepat kalo berangkat subuh biar sampai hari itu juga sekitar tengah malam, tapi K’ Idrus sudah tidak sabar segera berangkat. Kami pun juga agak was-was, karena ada daerah yang masih rawan dilewati malam hari, tapi alhamdulillah gak ada apa-apa, kami gak berhenti sama sekali sampai melewati daerah Tikke tersebut.

Ada 3 Propinsi & 9 kabupaten yang dilalui, yaitu Propinsi Sulawesi Tengah (Palu, Donggala), Prop Sulawesi Barat (Mamuju Utara, Mamuju Kota, Majene, Polman) & Prop Sulawesi Selatan (Pinrang, Pare-Pare, Pangkep, Maros, Makassar). Alternatif lain dari Palu menuju Makassar adalah via Palopo, jaraknya kurang lebih sama. Dulu kami sering pulang ke Makassar lewat jalur ini, karena waktu itu kondisi jalan via Mamuju rusak parah, tapi begitu udah mulus jalannya, kebanyakan orang memilih via Mamuju. Jalan via Palopo terlalu berkelok-kelok, si Dede gak berhenti muntah lewat sini, meski udah dijagain supaya gak goyang di mobil. Singgah makan di daerah Bambaloka, kemudian singgah untuk tidur-tiduran di mobil, selanjutnya singgah lagi dirumahnya tanteku di Polmas. Disini kami agak lama, tidur, makan (hmm yummi, ada udang, ikan nila goreng n bakar, ayam kampung bakar n sup ayam), mandi. Jam 10 pagi, setelah segar n kenyang, kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Yang saya perhatikan sepanjang perjalanan ini, banyak sekali mesjid dengan menara yang bagus dan menjulang tinggi. Beda didaerah lain yang menara hanya sekedar pajangan atau tempelan mesjid. Dan yang pastinya swadaya masyarakat sendiri.

Jam 17.00 akhirnya kami tiba di rumah di Makassar. Karena udah janji sama anak-anak mau jalan-jalan ke Mall, setelah istirahat sebentar, lanjut jalan. Ternyata ada gerai Pizza Hut yang baru dibuka di Plaza Ramayana Pettarani. Rasanya belum di Makassar, kalo gak makan Pizza Hut. Favoritku salad n blueberry milkshake. Abis itu baru ke Mall Panakkukang, menemani anak-anak main di Timezone sampai tutup mallnya. Di rumah, sy masih browsing informasi mengenai Bangkok yang berakhir dengan keputusan perjalanan ke Bangkok harus dicancel. Sejak dalam perjalanan memang, sy udah punya firasat, jadi minta tolong Amel untuk menukar uang ke hanya $Singapore n Ringgit.

Day-1, Minggu, 16 Juni 2010

Kami (sy, Amel, K’Idrus, Ayha n Dede) berangkat tanpa punya persiapan tujuan yang jelas akan kemana di Kuala Lumpur. Semua persiapan jadi sedikit mentah, karena yang dipersiapkan tujuan Bangkok n Singapore. Rencana awal hanya akan transit di Bandara LCCT KL, karena kami mengambil rute Makassar-KL-Bangkok-KL-Singapore-KL-Makassar. Tadinya pun gak ada rencana ke Singapore, cuman Airasia menginformasikan perubahan jadwal Mks-KL-Mks yang tidak match dengan connecting flight kami, so kami memutuskan untuk extend, tadinya pulang ke Makassar hari Rabu (19/5) berubah ke Jumat (21/5). Karena bingung, sy minjam laptopnya K’Ira untuk dibawa pergi, ntar di jalan aja diputuskan mau kemana.

Harga tiket kebanyakan 0rp, karena memanfaatkan promo free seat Air Asia. Walaupun 0rp, tetap ada yang dibayar karena Airport tax Bandara di Malaysia, Thailand, Singapore include di harga tiket plus biaya tambahan penggunaan kartu kredit plus kalo pengen pake membagasikan koper/ransel atau beli makanan. Bookingnya di bulan November 2009, Mks-KL-Mks= 75rb/orang (75rb itu untuk airport tax bandara KL), KL-Bkk-KL=300rb/orang (juga hanya untuk airport tax). Total tiket sesuai rencana awal rata-rata 625rb/orang. Karena trip ke Bangkok batal, tiket penerbangan Bangkok kembali dalam bentuk credit shell dikurangi convenience fee aja. Jadi untuk perjalanan yang dilaksanakan ini , total tiket Mks-KL-Sg-KL-Makassar Rp 325rb ditambah bis dari Sg ke KL 200rb = 525rb/orang.

Mata uang, $1 Singapore= 6700rupiah, 1RM=2650rupiah.

Barang bawaan, sy kelompokkan menjadi 3 ransel; 1 buat pakaianku n K’Idrus; 1 buat pakaian anak-anak; 1 buat ransel makanan. Sy bawa travel cooker, susu, beras, mie gelas, popmie, dan makanan praktis lainnya.

Jam 13.30 check in dan bayar airport tax Rp 100rb di Bandara Hasanuddin. Tiket pulang wajib diperlihatkan, mungkin antisipasi untuk mengurangi masalah pendatang gelap di Malaysia. Sayangnya loket fiskal pajak lama banget ditungguin baru buka. Karena berangkat sama anak-anak, fotocopi Kartu Keluarga wajib dilampirkan selain NPWP pribadi.

Setelah melalui proses imigrasi, kami masuk di ruang tunggu. Pesawat berangkat tepat waktu jam 17.00 dan tiba jam 20.05 Makan malam di Food court LCCT. Lumayan ketemu nasi dan banyak pilihan makanan, harganya juga cukup murah ketimbang makan KFC atau sebangsanya. Sy berdua Amel, 2 nasi+ seporsi hati ayam+ seporsi sayur bakso ikan + 1 potong ayam RM9.

Malam ini kami nginap di Tune Hotel, bandara LCCT KL. Vouchernya udah kami pesan jauh-jauh hari, karena tadinya merupakan bagian dari rencana awal jika jadi ke Bangkok. Kami cuman pesan 1 kamar, makanya agar gak keliatan rame, yang jalan duluan sy, K’Idrus, n Ayha untuk check in kamar. Agak jauh juga jalannya, meski gedung hotel keliatan dekat dari terminal kedatangan. Bisa pake trolley buat bawa barang, meski awalnya ragu-ragu ntar ada yang melarang. Tapi gak tuh, ternyata banyak juga yang pada bawa trolley ke hotel. Namanya juga hotel murah, untuk mensiasati kemurahannya, beberapa standar kenyamanan sebuah hotel dibeli terpisah. Misalnya sarapan, penggunaan AC dibeli terpisah mau yang 12 jam atau 24 jam, Handuk/toiletries, koneksi internet. Sy sengaja beli kosongan aja, mau lihat kondisinya dulu. Pas masuk di kamar, kamarnya sempit banget, kalo untuk berdua dan sekedar numpang tidur, gak masalah. Trus ruangan agak panas meski ada ceiling fan. Buru-buru sy turun untuk membeli kredit AC 12 jam plus koneksi internet 24 jam seharga 69rb. Jadi total yang dibayar untuk kamar plus AC n koneksi internet 200rb. Masih cukup murahlah. Sayang cuman pesan 1 buat berlima. Yang lain sudah pada tidur, sy masih browsing penginapan n tempat tujuan wisatanya. Mau nginap di Genting, semua hotel full. Akhirnya karena masih banyak pertimbangan, tidur dulu deh. Liat lagi gimana besok.

SPORE & KL (Part III) 12-15 March 2010

Jam 8pagi setelah mandi, kami turun sarapan dan siap-siap jalan, tujuan pertama kami adalah Batu Caves. Berdasarkan informasi di hostel tersebut, kami harus naik bis Metro bayar 1 RM ke Central Market lalu naik bis 11 ambilnya di halte depan Bangkok Bank bayar 2.50RM. Sempat salah naik bis, yang menyebabkan kita harus jalan kaki lumayan untuk sampai di halte depan Bangkok Bank tersebut.

Batu caves terletak 13 km dari KL. Yang menarik dari tempat ini adalah kuil-kuil hindu dan patung dewa hindu (dewa murugan) setinggi 43 m, katanya sih tertinggi di dunia.

Sampai di Batu Caves, paling bagus menjajal kemampuan untuk menaiki tangga sebanyak 272 anak tangga . Sayangnya, gak ada yang mau. Jadi yach, foto-foto n go. Saya sih sebenarnya penasaran, ada apa diatas sana, sekalian olahraga secara ini yang ketiga kalinya kesini, 2007,2009,2010.

Pulangnya coba-coba nawar taxi sepakat dengan harga 25RM tujuan Central Market plus diantar ke tempat penjualan jam tangan (lupa namanya, tapi yang pasti yang pernah ke Malaysia via tur pasti mampir di tempat ini) dan Royal Selangor Pewter (kerajinan perak, timah dan tembaga). Tempat penjualan jam tangan menurutku biasa-biasa aja karena tidak semua merek dijual disini dan modelnya biasa-biasanya. Ada temanku yang beli jam Alexander Christie disini, ternyata model yang  sama di Makassar juga dijual lebih murah. Ughh. Kalo Pewter, harganya selangit, tapi memang setara dengan kualitas barangnya, barang-barang yang dijual seperti gelas tembaga, cawan, baki ukiran, kalung batu onyx dan lain sebagainya.

Jam 12.00 ada smsnya Inchi yang memastikan bahwa mereka jadi ke sg dari Jakarta dengan pesawat Airasia terakhir. So, jam 15.00 saya sudah harus kembali ke Paradiso, ngepak barang dan pergi ke bandara. Tadi pagi, saya udah cek tiket untuk penerbangan terakhir ke Sg jam 18.15 harga 106RM, tapi belinya sudah tidak bisa online, harus di Sales Office di KL Sentral atau di Bandara.

Kami tiba di Central Market. Central market ini adalah pusat kerajinan & seni Malaysia. Merupakan tempat belanja souvenir/oleh-oleh yang lebih murah dari tempat lain. Segala macam ada termasuk barang-barang khas indonesia, batik, atau souvenir Bali. Enaknya disini full AC.

Sebelum turun dari taxi di Central Market, saya dealkan sama supir taxinya untuk bawa K’ Idrus n keluarga keliling KL dengan harga RM100. Rutenya minimal Istana Raja, View Petronas, Petronas Twin Tower, KLCC, Twin Tower, China Town. Jadi jam 14.00 kami  harus sudah ada di tempat kami diturunkan. Waktu selama 2 jam tersebut kami gunakan untuk makan di KFC dan belanja di dalam Central Market. Udah gak sempat-sempat santai-santai keliling dan gak banyak tawar-tawar lagi. Sayangnya si supir taxi gak menepati janjinya. Jadi kami mencari taxi lain, setelah lama menunggu, dapat, tapi begitu naik di taxi dan mengetahui kami berlima, langsung menyuruh kami turun sambil ngomel-ngomel. Yahhh. Memang sih kami yang salah, tapi tadi pun kami naik taxi dari Batu Caves gak masalah. Mungkin tergantung supir taxinya kali ya. Supir taxi yang bawa kami dari Batu Caves orang India yang mungkin gak pusing dengan aturan sedangkan supir taxi yang ngusir kami orang Cina.

Alhasil, kami naik bis sekali turun di halte dekat hostel kami RM 1. Saya pun segera mengambil ransel dan naik monorail ke KL Sentral. Sesampai di KL Sentral, saya menuju ke Airasia Sales Office buat beli tiket. Mana pakai nomor antrian lagi, dan nomor antrianku masih lama, masih ada 25 nomor antrian sebelumku. Kalau begini caranya, I can’t make it. Harus nekat nerobos, Jadi begitu ada yang kosong, saya langsung masuk, dan masih bisa diperbolehkan membeli tiket pesawat tersebut. Sip. Harga RM121, karena ada tambahan biaya fee sebesar RM15 untuk pembelian dengan kartu kredit. Ternyata setelah saya perhatikan, di mesin no antrian ada tulisan kecil yang menyatakan bahwa untuk pembelian tiket hari tersebut tidak perlu ngantri, bisa langsung ke counter.

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.40. Dengan berlari-lari kecil, saya turun ke tempat shuttle bis Skybus dan Aerobus. Saya milih Skybus yang akan start pukul 15.45 menit. Untung tepat waktu dan perjalanan ke bandara sekitar 1 jam.

Segera, ke counter check in, hanya makan waktu proses 5 menit, selesai. Aman deh, akhirnya saya bisa bernafas lega sedikit, shalat, cuci muka dan dandan biar fresh lagi.

SPORE & KL (Part II) 12-15 March 2010 BUKIT BINTANG

Pesawat mendarat dengan mulus di bandara LCCT KL. Selama perjalanan, tak henti-hentinya kami (saya, T’Baya n K’Mila) membicarakan kejadian tak terduga tadi. Yang berhasil berangkat, saya, T’Baya, K’Mila, K’ Idrus n Om Arfah. Rencana awal, mereka ber-8 membeli tiket Mks-KL-Mks seharga Rp 315rb/org/pp sudah termasuk bagasi n meal di pesawat. 1 orang mengundurkan diri karena harus siaga (siap antar jaga) istri yang perkiraannya bulan ini melahirkan, 3 orang batal berangkat karena terlambat check in. Terlambatnya mereka, karena ada 1 orang yang baru mengurus NPWP pada hari itu.

Begitu tiba di terminal, ada sms dari inchi, bahwa mereka sedang mengupayakan menyusul via Jakarta. Tapi kepastiannya baru besok. Ya sudah, kita liat gimana besok. Kalo semuanya sesuai rencana, malam ini kami menginap di Tune Hotel yang letaknya 200m dari bandara LCCT, karena pesawat menuju Sg besok jam 06 pagi. Tapi sayangnya, voucher hotel tersebut ada sama inchi, atas nama inchi dan menggunakan kartu kredit inchi. Jadi kelihatannya tidak mungkin digunakan. Daripada bengong, mending saya ikut dengan rombongan K’ Idrus ke KL. Pikirku ntar balik lagi jam 03pagi ke bandara LCCT.

Setelah keluar dari pintu ketibaan, kami bergegas ke shuttle bis. Ada 2 bis yang melayani rute LCCT-KL Sentral, Aerobus 8RM sekali jalan, Skybus by Airasia Corp 9 RM sekali jalan. Mereka beroperasi hampir 24 jam. Kami memilih Aerobus dan turun di KL Sentral. KL Sentral adalah stasiun kereta dan bis yang menghubungkan antar Negara bagian di Malaysia. Kami menuju stasiun Monorail yang letaknya sekitar 200m dari KL Sentral dan membeli kartu sekali pakai untuk tujuan Bukit Bintang RM2.10.

Untuk akomodasi mereka, saya udah booking hostel Paradiso Bed & Breakfast yang letaknya di Bukit Bintang di samping McD dan di depan stasiun monorail Bukit Bintang sisa menyeberang jalan. Strategis dan mudah ditemukan. Awalnya saya pesan 3 kamar, 1 kamar untuk Dg Kadir dan istri; 1 kamar untuk T’Baya n K’Mila; 1kamar sisanya untuk berempat. Harga rata-rata perorang Rp 335rb untuk 3 malam. Karena yang akan menginap hanya 4 orang maka 1 malam pertama tetap di charge full untuk 8 orang, malam berikutnya baru disesuaikan.

Jam 10 malam, kami keluar cari makan dan memilih di tempat K’Idrus suka nongkrong karena ada live music yang seru. Nasi gorengnya dan nasi lemaknya lumayan, kuetiaw biasa aja, the tariknya asik, harga RM75/berlima. Live musicnya seru, musiknya beragam, Lagu Indonesia, Lagu Irama Padang Pasir, Lagu Melayu dan lain sebagainya. Yang menarik juga, penontonnya juga seru, bule-bule bergoyang heboh n ada aja yang kasih saweran sama penyanyi ceweknya. Suasananya aman-aman aja, karena tempat tersebut tidak menyediakan bir/minuman keras. Jam 01 kami balik ke hostel, tidurrrrrrrrr. Saya mutusin untuk tidak balik lagi ke LCCT, lebih baik nunggu kabarnya inchi, jadi ke Sg atau tidak. Biar aja tiket ke Sg jam 6 pagi tersebut hangus. Capeekkk.

SPORE & KL (Part I) 12-15 March 2010

KEJADIAN TAK TERDUGA

Akhirnya perjalanan pertama di 2010 dilaksanakan, 12-15 Maret 2010. Tujuannya ke Singapore (Sg) 2 hari 2 malam. Bertiga  dengan office mate, inchi n ani.

Tiket kami beli di bulan Agustus 2009 Makassar-KL-Sg-KL-Makassar by Air Asia Rp 700rb/orang. Add on meal n bagasi jadi totalnya Rp 780rb. Khusus saya, karena potong e-gift vouchernya Airasia Rp 500rb (thanks melia), jadi cuman bayar Rp280rb.

Akomodasi dibooking online, 1 malam di Tune Hotel LCCT bayar Rp 300rb via www.tunehotels.com dan 2 malam di Footprints Hostel via www.hostelworld.com , bayar dp 10%, sisanya bayar tunai begitu tiba di sana Rp 290rb/2 malam/orang. Jadi total akomodasi 3malam tersebut Rp  390rb/org.

Kurs 1 RM = Rp 2,700;  S $1= Rp 6,700

Pesawat Sriwijaya yang membawaku terbang dari Palu menuju Makassar tiba di bandara Sultan Hasanuddin tepat waktu. Alhamdulillah, sesuai rencana. Tapi mana yang lain ya? Tiket dipegang sama inchi. Jam 15.30, terdengar pengumuman bahwa penumpang AirAsia diminta masuk ke ruang tunggu. Berarti proses check in sudah dari tadi. Telpon inchi katanya sudah di jalan, telpon Ani berkali-kali tapi gak diangkat. Telpon K’Idrus, suamiku yang rencananya akan berangkat juga ke KL bersama dengan keluarganya, juga masih di jalan. Saya udah mulai kuatir. Akhirnya K’Idrus tiba, tapi yang bawa tiket mereka juga belum sampai. Mereka rombongan 7 orang, yang sudah tiba di bandara baru 4 orang. Daripada menunggu, bergegas kukumpulkan semua paspor yang ada n airport tax Rp 100rb/orang dan mencoba memohon masuk di pintu kedatangan tanpa tiket tapi dengan memperlihatkan paspor, untungnya mau. Di AirAsia check in counter, nanya tiket pp atau minimal kode booking. Tapi karena tiket gak ada, mo nyari kode booking di e-mail, hpnya low batt, jadi dengan muka memelas minta tolong dibantu dicari by nama. Akhirnya mau, setelah dibuatkan boarding pass, bergegas keluar dan mengajak mereka masuk dan menyelesaikan urusan fiscal. Panik dan tegang, karena inchi masih di jalan kena macet iring-iringan jenazah, Ani gak ketahuan kabarnya, rombongannya K’Idrus yang tersisa (Dg. Kadir bersama istri n K’Cuki) juga masih di jalan.

Jam 16.15, pelan tapi pasti, petugas counternya mulai membereskan counter dan menutup proses check in. Saya masih memelas minta kelonggaran waktu, tapi rupanya udah gak ada lagi dispensasi. Apa boleh buat, saya masih berdiri bingung di depan counter, Ani n Inchi tiba tepat pada saat petugas counternya udah berlalu. Mau gimana lagi? Semuanya sudah direncanakan jauh-jauh hari, namun pas hari H-nya berantakan setengah mati. Aihh..Pengen rasanya membatalkan keberangkatan. Yahh, ngapain saya jalan sendirian, suatu hal yang paling saya hindari n secara ini bukan pertama kalinya ke Sg. Mereka (ani n inchi) yang baru mo kesana. Mereka sebenarnya udah ada di Makassar sejak sehari sebelumnya karena ngambil cuti.

Saya sendiri belum memastikan berangkat meskipun tiket Sriwijaya untuk hari Jumat tujuan ke Makassar sudah terbeli jauh-jauh hari, karena sampai hari Kamis, saya belum mengajukan permohonan cuti. Harusnya jauh-jauh hari sih, cuman Ani n Alam juga mengajukan cuti pada saat yang bersamaan. Dan melihat sikon yang ada, kuputuskan untuk mengajukan permohonan mereka duluan. Kebetulan pada minggu ini, ada kegiatan MOU  dengan Kejaksaan Tinggi dimana kegiatan tersebut akan dihadiri Kakanwil. So busy. Apalagi sebagai Kakanwil baru, beliau minta dijadwalkan bertemu Gubernur dan Walikota. Alhasil semuanya berjalan dengan lancar kemudian baru mencoba meminta izin cuti sama bos di hari Kamis. Alhamdulillah, diberi izin.

Setelah melewati proses imigrasi, kami masuk ke ruang tunggu. Jam 17.00 waktunya boarding pesawat dan segera lepas landas.

Pelajaran berharga yang dipetik:

  • Jangan samakan penerbangan domestic dengan penerbangan internasional. Check in untuk destinasi internasional 2-3 jam sebelum keberangkatan, karena masih harus proses fiscal, imigrasi n pemeriksaan barang bawaan non bagasi. Karena ada aturan barang cairan >100ml tidak diperbolehkan dibawa kecuali jika dibagasikan.
  • Jika berangkat berombongan, tunjuk 1 penanggung jawab. Penanggung jawab tersebut yang memegang dokumen seperti tiket n paspor serta kalo perlu berangkat ke bandara lebih dulu untuk proses check-in.
  • Manfaatkan self check in atau website check in. Fasilitas ini disediakan oleh Air Asia dan sudah dapat dimanfaatkan 48jam sebelum keberangkatan. Sayangnya untuk self check in belum ada fasilitasnya di bandara Sultan Hasanuddin. Untuk check in  melalui website, sisa mengikuti petunjuk step by step di www.airasia.com
  • Barang bawaan sudah dipersiapkan sehari sebelumnya, sehingga tidak perlu terburu-buru apalagi jika ada kejadian tak terduga.