BERMAIN DI PULAU DUTUNGAN

IMG_7067

Kalo diajak main air, Aya n Dede gak ada bosan-bosannya. Kali ini saya ajak ke Pulau Dutungan di Desa Palanro Mallusetasi Barru. Hanya sekitar 20 menit berkendara dari Pare-Pare. Pulau ini kecil saja dan tidak semua bagian dari pulau ini bisa dipakai mandi-mandi. Cocok untuk gathering keluar or kantoran, coz menyediakan cottage dan area untuk bermain bersama. Air tawar untuk mandi bisa memanfaatkan sumur yang ada dengan gratis. Asik kan. Biasanya problem mandi di pulau karena keterbatasan air tawar sehingga jadi gak gratis. Fasilitas lainnya ada mushalla dan ada resto kecil.

Untuk ke pulau ini cukup membayar biaya transport perahu 30ribu per orang pp.

IMG_7028

dermaga menuju pulau dutungan

 

 

 

 

IMG_7045

di perahu

IMG_7047

tiba di dutungan island, tampak banyak yang bersiap2 menyeberang pulang

IMG_7056

main air


IMG_7063

 

 

 

 

 

 

 

IMG_7068

cottage di pulau dutungan

IMG_7048

jalan setapak di pulau dutungan


MANCING DI KARAMBA DANAU MATANO

Dalam satu kesempatan dimana lagi malas berangkat ke Makassar untuk kuliah, saya tetap dipaksa sama anak-anak untuk punya rencana jalan di Sabtu Minggu. Padahal pengennya istirahat di rumah saja.  Pilihannya ada 2 yaitu explore bagian di Toraja yang belum dikunjungi atau ke Sorowako. Sorowako adalah kota pertambangan nikel yang dikelola oleh PT. Vale (dulu Inco).  Saya punya sahabat yang tinggal di Sorowako. Hasni, begitu dihubungi langsung ngajakin main di karamba miliknya. Asikk, mending kesini sekaligus kangen-kangenan. Terakhir ketemu sekitar 10 tahun yang lalu, selebihnya update info melalui Facebook. Jarak tempuhnya lumayan juga sekitar 223km dari Palopo sekalian ngukur jalan dan ngetes ketahanan fisik nyetir mobil.

Mengenai penulisan kata Soroako dan Sorowako, Aya dan Dede sempat berdebat mana yang benar. Nyari di Google, banyakan Soroako dibanding Sorowako. Menurut Hasni, dulunya disebut Soroako dan sejak beberapa tahun belakang ini sudah berubah menjadi Sorowako. Sama halnya Manado dengan Menado, setelah tinggal disana baru tahu yang benar adalah Manado. Dan sama halnya juga Parepare dan Pare-Pare, setelah tinggal disana baru tahu juga yang benar Parepare (disambung tanpa garis penghubung).

Terhitung sudah 4 kali saya ke Sorowako sebelum perjalanan ini. Pertama, berlibur ke rumahnya Hasni pas jaman kuliah. Kedua, ngambil data untuk bahan skripsi (saya dan Hasni partner skripsi dan ngambil judul tentang Inco). Ketiga, pas Hasni menikah. Keempat, ada acara nikahan keluarga disana.  Saya suka suasananya kota kecil ini, tenang dan teratur. Dulu, rumah-rumah perusahaan tampak apik berjejeran, lokasi dan warna rumah sesuai dengan level jabatan. Sekarang, kelihatannya tak terawat lagi, karena banyak yang kosong. Banyak karyawan memilih keluar dari rumah perusahaan dan membangun rumah sendiri sejak adanya perubahan kebijakan tentang perumahan karyawan PT. Vale. Hasni yang tadinya tinggal di rumah perusahaan, juga sudah tinggal di rumah sendiri.

20141019_073640

mandi-mandi di Pantai Ide, Danau Matano

20141019_081717

Pantai Ide, Danau Matano

20141019_081729

Pantai Ide, Danau Matano

20141019_112938

Di karamba

20141019_113111

me n my girls

20141019_113810

suasana di karamba

20141019_120046

mancing ikan lele

20141019_113816

melihat-lihat hasil tangkapan, ikan lelenya langsung digoreng dan ikan lainnya seperti bawal, ikan nila dan ikan mas dibakar.

20141019_132608

proses bikin kapurung, makanan khas palopo

20141019_134333

kapurung dan pelengkapnya

 

MENCARI KETENANGAN DI RAMMANG-RAMMANG KARST

1486106_10201778473646502_4222171037400221084_o


Daerah ini menjadi trending topic bagi penyukajalanjalan di Makassar. Letaknya pun tak jauh dari kota Makassar, hanya sekitar 32km masuk dalam wilayah Kabupaten Maros. Menuju ketempat ini juga tak sulit, berkendaralah sampai hampir perbatasan Maros-Pangkep, belok kanan begitu ketemu pertigaan dimana Semen Bosowa Maros berlokasi, kemudian tak lama akan ketemu jembatan dimana disitulah titik point menuju Rammang-rammang Karst. Continue reading

FROM MANADO TO PARE-PARE

Tepat di tahun baru 2014, saya meninggalkan manado menuju Makassar. Belum langsung ke Pare-pare karena mau melapor dulu ke kantor cabang induk di Makassar. Jadi masih sempat merayakan tahun baru yang ke tiga dan terakhir kali bersama-sama dengan teman-teman di Manado, masih sempat diberi kado perpisahan, dan masih sempat mengikuti acara peresmian BPJS Ketenagakerjaan sekaligus acara menyambut tahun baru tepat pukul 00.00 di Rumah Jabatan Gubernur sulut mendampingi Kakacab.

Pare-pare merupakan tempat mutasi yang ketiga. Dari yang biasa hiruk pikuk di kota Provinsi seperti Makassar, Palu dan Manado, udah membayangkan sepinya kota Pare-pare. Dari yang kantor berlantai 3 menjadi kantor dengan rumah tipe 45.  Di Pare-pare, saat ini personilnya cuman 3 orang, cuman ada saya, 1 staf dan 1 security. Tapi dibawa senang saja. Mari kita nikmati saja dan jadikan sebagai bagian dari perjuangan dalam perjalanan hidup.

TANJUNG BIRA YANG SEMPAT TERLUPAKAN

IMG_7465

bira powdery sand, anak saya kagum dengan pasir di Maya Bay, Phuket yang ternyata ada juga di Bira

Bira terakhir dikunjungi 14 tahun yang lalu. Jalanan yang jelek dan kesan jorok yang sempat tertangkap pada saat itu jadi bikin malas setiap diajak kesana. Tapi itu dulu, Bira sudah banyak berubah dan menjadi buah bibir di kalangan wisatawan domestik dan mancanegara. Jalanan sudah super mulus, dan sudah banyak aktivitas yang dapat dilakukan disana seperti snorkling, banana boat atau hanya sekedar duduk-duduk di tepi pantai menikmati kejernihan air laut tanjung bira dan pantai berpasir sehalus bedak.

Setelah mendatangi beberapa penginapan (Bira beach hotel (400rb/malam 1 rumah 2 kamar tapi air terbatas), Sunshine Guest House (full)), akhirnya kami memilih menginap di Bungalow Kassi Pute. Lokasinya dekat dengan pasir putih, jalan 50 m menuruni undakan tangga sudah sampai di pantai. Harga 250ribu/kamar/malam. Harganya gak bisa ditawar lagi, tapi  mereka tidak membatasi jumlah orang yang menginap dan tidak membatasi air bersih. Air bersih sulit disana, rata-rata mereka beli kubikan. Fasilitasnya di dalam kamar hanya ada kipas angin dan springbed ukuran no 2. Minimalis tapi bersih. Didepan penginapan ini banyak penjual, jadi kalo lapar bisa pesan dibuatkan indomie atau sekedar minum kopi. Sempat bertemu pemilik penginapan ini, mereka rupanya menyediakan ruangan makan-makan tanpa perlu bayar, bahkan kompor dan alat masak bisa dipakai jika ingin masak-masak.

Sempat jalan sekitar penginapan, didekat situ ada hotel Anda dan resto D’Perahu. Hotel Anda bertarif mulai harga 600rb dengan fasilitas ber AC,  penampakan hotel biasa saja gak sesuai dengan harganya. Di malam hari, kami makan di resto D’Perahu, restoran berbentuk kapal Phinisi. Gak ada yang istimewa dengan makanannya. Sebelum makan, kami jalan ke pantai Bara. Hanya sebentar di pantai Bara karena hari mulai gelap.

Kami menyewa perahu 250ribu untuk membawa kami snorkling di pulau kambing dan liukang. Harga segitu sudah termasuk baju pelampung dan beberapa alat snorkling. Snorkling di 2 titik, disekitar pulau kambing dan di depan pulau liukang. Yang menggembirakan saking excitingnya anak-anak di Bira, untuk pertamakalinya mereka mau dan berani snorkling di tengah laut.

Kami lalu istirahat dan makan siang di Pulau Liukang. Ikan bakar dan sayur yang per paketnya seharga 25ribu. Lumayan, masih lebih puas makan disini ketimbang makan di resto D’Perahu.

 

page bira

Bungalow Kassi Pute, tempat kami menginap

IMG_7288

IMG_7304

IMG_7624

yeay..anak-anakku sudah berani turun dilaut, biasanya hanya berani di pinggir pantai.

IMG_7622

memberi makan ikan-ikan @snorkling sekitar pulau kambing

IMG_7588

dalam perjalanan menuju pulau kambing ketemu sekumpulan lumba-lumba

IMG_7551

Di Bara Beach Bungalows, numpang duduk menikmati suasana. Pengen makan di restonya, pegawai disana bilang chefnya belum datang.

IMG_7274

pantai bira

IMG_7631

makan di pulau Liukang