JELAJAH 3 PULAU

Salah satu kenikmatan mutasi adalah bisa mengenal daerah-daerah baru. Sewaktu di Manado, saya berkesempatan untuk mengunjungi ibukota dari 3 kabupaten kepulauan yang ada di Sulawesi Utara. Kepulauan Sitaro (Siau, Tagulandang, Biaro), Kepulauan Sangihe, dan Kepulauan Talaud. Pulau Miangas sebagai pulau terluar dari Indonesia yang berbatasan langsung dengan wilayah Philippines termasuk dalam gugusan Kepulauan Talaud. Jarak P Miangas sendiri dari Melonguane ibukota Kep. Talaud masih sangat jauh kira-kira 1 1/2 hari naik kapal laut perintis yang jadwalnya hanya ada 2x sebulan. Diawal kepindahan ke Manado, saya udah membayangkan bisa nyebrang ke Davao (Philippines) dari Manado, Continue reading

KOTA SERIBU SUNGAI

Kota Banjarmasin dikenal sebagai kota seribu sungai.

Jalan-jalanlah ke pasar terapung Lok Baintan dan lihatlah aktivitas Mandi Cuci Kakus (MCK) warga yang hidup di pinggir sungai. Mereka dengan santainya buang hajat di jamban apung lalu mandi di dekatnya dan bahkan menggosok gigi dengan air sungai tersebut. Kebiasaan (budaya) masyarakat Buang Air Besar Sembarangan (BABS) membuat sungai ini tercemar berat kotoran manusia.

Faktanya, jamban apung sudah mencapai sekitar 2800 jamban jika dihitung dari tengah Kota Martapura hingga ke Desa Lok Baintan. Jika satu jamban setiap harinya dipakai buang air besar 10 hingga 15 penduduk maka kawasan itu tercemar antara 10 hingga 14 ton tinja manusia. Bisa dibayangkan begitu tingginya pencemaran bakteri E-coli di kawasan ini sudah tercatat 16000PPM, padahal batas baku mutunya 30 PPM.

Tapi memang gak hanya di Banjarmasin. Permasalahan BABS Di daerah lain seperti survei yang dilakukan Urban Water and Sanitation Health (IUWASH), sebuah lembaga dari Amerika Serikat yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang bahwa 80% masyarakat Tangerang lebih memilih punya televisi dibanding jamban.

Ada 2 pasar terapung di Banjarmasin. Kami memilih ke Lok Baintan yang kata mbah google jauh lebih ramai dibanding pasar Terapung Muara Kuin. Informasi yang kami dapat rupanya kurang lengkap, ternyata pasar Terapung Muara Kuin lah yang menjadi tempat shooting icon RCTI dan menjadi tempat yang dikunjungi SBY sekitar 3 bulan lalu. Amel pun sebenarnya merekomendasi Muara Kuin karena jualannya lebih bervariasi, banyak makanan, jaraknya lebih dekat sehingga nyewa perahu lebih murah 50ribuan dibanding ke Lok Baintan.

IMG_8493

Kami menyewa perahu ke Lok Baintandengan harga 300rb pp dengan lama perjalanan ke sana kurang lebih 45 menit. Perahunya cukup luas, bisa di isi kurang lebih 10 orang dengan cukup nyaman. Bersamaan dengan kami, banyak jukung (perahu kecil) yang berangkat menuju Lok Baintan untuk berjualan. Kebanyakan yang dijual adalah buah-buahan seperti rambutan, kecapi, sirsak, jambu biji, pisang. Ada juga yang menjual kue-kue basah dan kue pukis yang dimasak di perahu.

Kami membeli jambu biji, rambutan, kecapi dan kue basah. Sekedarnya saja, biar kami tidak hanya melihat-lihat saja. Makan kecapi sambil bernostalgia, dulu waktu SD tinggal di Jakarta, kalo mau pergi ngaji melewati hutan pohon kecapi, dengan teman-teman selalu berebutan buah ini kalo ada yang jatuh.

BERMAIN PARALAYANG

IMG_94955199890141

Bermain paralayang dan snorkling adalah 2 kegiatan yang mengisi long wiken 2-5 Juni kemarin. Gak jauh-jauh dari Palu, coz harus sadar diri, tiket pesawat dan kapal gak terjangkau sama budget, ingin mendarat ke Toraja 20jam atau ke Bada Valley, Tentena rasanya gak mampu. Eneg setelah long wiken mendadak bulan Mei lalu ke Manado lewat darat.

Tetap ngomel-ngomel gak berguna pada Pemerintah yang seenaknya mendadak menetapkan cuti bersama, seandainya tahun lalu saat cuti bersama tahun 2011 diumumkan juga cuti yang mei n juni ini, entah berada dimana saya pada mei dan juni itu. Huhuhu. Tapi potong cuti bersama tahun ini gak masalah buatku. Masih banyak stok cuti karena tahun ini jatuhlah jatah cuti besarku yang 45 hari banyaknya.

Snorkling-nya di Tanjung Karang, Donggala 30 menit dari Palu. Waktu yang tepat untuk snorkling disini jam 11-14 siang. Waktu yang sangat tepat untuk mengeksotiskan kulit. Tapi apa boleh buat, jam segitu, airnya sudah surut dan tenang, bikin pemandangan dalam laut jernih banget. Lewat jam 14 sudah pasang lagi.

Selain snorkling, bisa juga naik perahu glass bottom, hanya 50rb/perahu keliling-keliling tanjung Karang. Dibanding waktu naik perahu glass bottom dari Gili Trawangan keliling-keliling katanya mau dikasih mampir di Gili Meno n Gili Air tapi ternyata gak mampir, bayarnya 50rb/org. Huhu. Dan menurutku lebih cantik isi laut Tanjung Karang dari glass bottom. Snorklingnya belum bisa sy bandingin, maklum pengalaman snorkling masih sedikit, belum banyak tahu tempat yang bagus. Tapi di Phuket lalu, saat di beri kesempatan untuk turun snorkling tengah laut dalam tur Phi-phi, rasanya cantik-an di Tanjung Karang. Banyak bulu babinya di karang-karang di Phuket itu, bikin il-fil dan harus hati-hati banget.

Bermain paralayang di fasilitasi oleh Maleo Paralayang Club. Karena harga teman, diberi harga Rp 150rb/orang. Tempat mainnya dari Matantimali di ketinggian 800m, 15 km dari Palu dan mobil bisa naik sampai sana.

Bermain paralayang lepas landas dari lereng bukit atau gunung dan sangat ditentukan sekali oleh cuaca dan angin. Makanya kami diwanti-wanti untuk berangkat pagi-pagi. Di Palu, katanya baru ada 3 pilot tandem berlisensi dan 2 diantaranya menandemi kami, Pak Mimi n Pak Aco

IMG_94968234171939

view of palu bay from matantimali highland

Kesempatan pertama, Tika yang terbang duluan, agak keder juga sih melihat dia baru berhasil terbang pada usaha yang ketiga, udah berlari-lari menuju tebing, arah angin tiba-tiba berubah dan parasutnya kembali jatuh ke tanah.

Saya dipasangi alat untuk mengetahui ketinggian pada saat terbang nanti, kemudian Pak Mimi yang menjadi pilot tandem saya, juga membawa HT untuk berkomunikasi dengan rekan yang menginformasikan arah angin pada saat akan mendarat nanti. Setelah siap, parasut sudah terangkat, kami segera berlari-lari menuju tebing dan terbang. Wow, subhanallah, senangnya merasakan terbang seperti burung dan melayang-layang di udara, menikmati desiran angin. Sy sempat berfoto-foto pada saat terbang tapi pake kameranya Pak Mimi, moto kakiku yang sedang melayang-melayang, moto parasutku.

Kata Pak Mimi, kalo terbang sendiri, rata-rata atlet paralayang terbang dengan memanfaatkan angin akibat thermal/peningkatan suhu udara yang diperoleh dari atap rumah yang sebagian besar beratap seng dan secara Palu suhu udaranya sudah cukup panas karena berada di daerah Khatulistiwa.

paralayang

Sehingga penerbang dapat terbang sangat tinggi dan mencapai jarak yang jauh.

Hal itu pulalah yang menyebabkan kami terbang sebentar naik kemudian turun dan kembali naik. Untuk mendarat kami harus mutar-mutar dulu mencari angin baik. Sy merasa sedikit mual di udara.

Sayang banget, mendaratnya kasar sekali. Angin berubah dan tiba-tiba menjatuhkan parasut kami kedepan membuat kami harus mendarat sebelum waktunya. Harusnya masih berputar. Kondisi ini menyebabkan kaki kiriku keseleo dan muntah. Haduhhhhh.

Setelah saya, masih ada Kiki yang terbang, mendaratnya entah dimana, bukan di lapangan tempat kami mendarat. Tika dan Kiki mendaratnya mulus, safe n sound. Karena cuaca sudah gak bagus buat terbang, 3 teman yang lainnya akan mencoba terbang keesokan harinya.

I wasn’t lucky for paragliding, but at least I knew the sensation.

Sampai saat posting tulisan inipun, kakiku belum normal. Sudah diurut 2x dan sekali ke dokter. Rasa nyeri sudah hilang, tapi bengkaknya gak hilang-hilang. Iya karena sy gak pernah benar-benar istirahat, masih ke kantor, masih harus masak buat orang rumah, masih harus ngurusin anak-anak.

Kapok??? Hmmm…speechless

PULAU POYALISA, KEPULAUAN TOGEAN

Taman Nasional Kepulauan Togean adalah sebuah sebuah taman nasional di Kepulauan Togean yang terletak di Teluk Tomini, Sulawesi Tengah yang diresmikan pada tahun 2004. Secara administrasi wilayah ini berada di Kabupaten Tojo Una-Una.

Kepulauan ini dikenal kaya akan terumbu karang dan berbagai biota laut yang langka dan dilindungi. Beberapa aksi wisata yang dapat dilakukan di Kepulauan Togean antara lain: menyelam dan snorkelling di Pulau Kadidiri, memancing ,menjelajah alam hutan yang ada di dalam hutan yang ada di Pulau Malenge, serta mengunjungi gunung Colo di Pulau Una-una yang pernah meletus di tahun 1983. Wisatawan juga bisa mengunjungi pemukiman orang Bajo di Kabalutan.

Di kawasan ini juga, trdapat sekurang-kurangnya 262 jenis karang yang tergolong ke dalam 19 keluarga, satunya adalah jenis endemik, yaitu Acropora togeanensis. Hasil penelitian Wallace et. all, dari total 91 jenis Acropora yang ditemeukan di Indonesia (yang juga merupakan tertinggi di dunia), 78 di antaranya terdapat di Kepulauan Togean.

(sumber: Wikipedia)

Kepulauan Togean ini masih kalah populer dibanding Wakatobi, Bunaken di mata orang kita. Namun sangat terkenal di mancanegara.

Kepulauan Togean terdiri dari 5 pulau sedang dan sekitar 69 pulau-pulau kecil .

Yang sangat disayangkan, hampir sebagian besar pengelola wisata laut di pulau-pulau adalah orang luar. Seperti P Walea dikelola oleh marinir Italia dengan nama Walea Dive Resort, yang hanya memasarkan secara ekslusif hanya untuk orang Eropa saja. Padahal di tempat inilah, terdapat spot yang terbaik di Kepulauan Togean yaitu Tanjung Keramat. Atau Pulau Tupai juga dikelola oleh orang luar dengan nama Island Retreat. Atau Pulau Kadidiri, Black Marlin dan Paradise dikelola orang luar, hanya Pondok Lestari dikelola oleh penduduk setempat (info yang didapat, pemilik pondok lestari adalah bekas pemilik seluruh pulau yang menjual sebagian besar pulaunya kepada Black Marlin dan Paradise).

Ada 1 pulau yang dikelola dan dimiliki orang local sana, Bapak Ismail bekas mantri di Pulau Bomba. Pulau Poyalisa namanya. Kata Pak Ismail, pulau ini pun sudah banyak ditawar sama orang luar. Ada yang nawarin 500 juta oleh bule yang beristrikan orang Manado. Namun P Ismail masih bertahan, dan semoga aja tetap bertahan sampai anak cucu. Kalau sampai pulau ini juga dikuasai oleh orang luar, penduduk sana hanya akan jadi penonton di daerah sendiri.

Awalnya pulau ini dimiliki oleh Poya, sehingga pulau ini bernama pulau poya. Kemudian oleh P Ismail membelinya dari ahli warisnya. Seorang bule bernama Lisa yang datang berlibur dan menginap di P Bomba, selalu berperahu ke pulau ini, hingga akhirnya memohon kepada P Ismail untuk menamakan pulaunya, Pulau Poyalisa. Pulau Poyalisa berpasir putih, memiliki teluk kecil, dan di sekitar pantainya banyak terdapat coral cantik yg masih hidup

Pulaunya kecil dengan luas sekitar 5ha dan hanya dikhususkan untuk cottage saja. Tidak ada penduduk yang bermukim disini. Ada 8 cottage disana, 4 cottage yang baru dibangun dibagian depan pulau, 3 cottage di belakang pulau dan 1 cottage diatas tebing. Sebuah pulau dengan fasilitas sederhana, sesederhana orang-orangnya, gak ada fasilitas diving dan peralatan snorkeling yang memadai, tapi keramahan dan kehangatan P Ismail dan anggotanya membuat kami betah bermalas-malasan di pulau ini. Berperahu, memancing, snorkeling, berenang atau leyeh-leyeh di hammock.

Harga normalnya adalah 150rb/malam. Harga itu sudah termasuk 3x makan. Sangat terjangkau, dibandingkan harga akomodasi di Island Retreat, Black Marlin n Paradise.

Cara kesana:

Dari Palu ke Ampana via Poso (375 km) dengan bis (2x sehari) atau mencarter mobil, kemudian dengan kapal bodi dari Ampana ke Bomba (untuk ke P Poyalisa, P Bomba, P K. Kenari, P. Tupai/Island Retreat), atau kapal tujuan Wakai dan Malenge (untuk ke P Kadidiri dan sekitarnya).

Dari Gorontalo, naik kapal ke Wakai

Dari Pagimana, sekitar 60km atau 1 jam dari Luwuk (Pesawat Jakarta-Luwuk ada setiap hari). Kapal dari Gorontalo yang menuju Wakai pasti singgah di Pagimana.

AIR TERJUN MADAKARIPURA

Day-2 Minggu, 11 Juli 2010

Kami segera beranjak meski yang lain pada masih berlama-lama. Jagung bakar dan sarapan pagi kami lewatkan juga. Alhasil kami turun dengan nyaman, gak kena macet bahkan masih bisa singgah foto-foto di pananjakan-2. Kami gak singgah lagi di kawah dan terus pulang. Buru-buru kami packing barang dan masih mencari tahu cara untuk ke air terjun Madakaripura. Pucuk dicinta ulam tiba. Ada bison tujuan probolinggo yang mau ke air terjun, tapi harus minimal 6 orang, per orang bayar 75rb sampai di terminal probolinggo. Akhirnya kami deal 75rb/org dan hanya 4 orang dari kami yang mau kesana. Dari cemoro lawang, di pertigaan sukapura arah tongas, bis berbelok menuju air terjun Mada. Kami diantar duluan, meski ada penumpang lain yang tahu dan memprotes bahwa bis itu berbelok arah, yang protes itu orang bule lagi. Bapak sopir itu baik, namanya P’Suharto. Beliau cerita, mobilnya bisa dicarter cukup dengan 400rb/pp dari term Probolinggo ke Cemoro Lawang plus singgah di air terjun Mada dan ditungguin sampai puas. Harga yang sangat murah, dengan kapasitas mobil 20 orang berarti seorang Cuma 20rb/pp. Prinsip beliau, yang penting jalan dan dapurnya ngebul. Nah yang mau ke bromo rame-rame hubungi saja P’suharto ini di no 0813 3460 6160. 

Waktu menunjukkan jam 9.30 dan setelah kami menempuh perjalanan 45 menit dari Desa Cemoro Lawang saat kami sampai ke pintu masuk air terjun Madakaripura, kami diturunkan disini dan akan dijemput lagi setelah p’suharto mengantar penumpang lainnya ke terminal probolinggo. Kami minta dijemput jam 11pg. Air terjun Madakaripura ini terletak Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, Probolinggo itu berupa deretan air terjun yang sentralnya mencapai ketinggian 200 meter dari dasar jeram. Konon katanya disinilah Gajah Mada bersemedi dan menghilang. Ada patung Gajah Mada menyambut kami. Air terjun inilah yang muncul sekilas di iklan tv air mineral merek Aqua.

Bergegas menelusuri jalan setapak dan melewati sungai. Air terjun Mada ini rawan longsor dan sering banjir, banyak jalan setapak runtuh yang menyebabkan kami harus banyak menyusuri aliran sungai yang berbatu-batu besar. Harus hati-hati karena kalau salah menginjak batu yang licin, bisa terpeleset. Di pintu masuk, banyak guide yang menunggu, dan kami memilih satu untuk membantu kami memilih jalur untuk jalan. Ada juga jasa penyewaan sandal dan payung, bagi yang tidak mau basah karena untuk sampai ke titik akhir air terjun kita harus melewati tirai air terjun. Air turun sepanjang tebing membentuk seperti tirai tipis. Kami sih sudah siap berbasah-basahan kecuali adie yang sudah menyiapkan jas hujan sekali pakai yang katanya dibeli di indomaret seharga 3rb. Guide kami selain jadi penunjuk jalan yang baik, juga membantu membawakan ransel-ransel kami. Huh lega. Tadinya mau kita titip di bison, tapi gak jadi, takutnya ada kesalahan teknis secara sy harus sampai dibandara Juanda minimal jam 4 sore.

Perjalanan kedalam sekitar 1km sekitar 30 menit. Pemandangan indah banget dan menyejukkan mata. Sebelum memasuki tirai air terjun, tas-tas kami dititip di penjual makanan agar tidak basah.

Saat tiba di ujung, air terjunnya cantik dan sejuk membuat kami senang disini. Kata Belinda, kami seperti putri kayangan yang sedang mandi di kolam air terjun yang airnya berwarna kehijauan. Kata Ajeng, nilainya 90 dan jauh lebih cantik dibanding Coban Rondo, Malang. Kami dibantu foto oleh anaknya bapak guide itu. Bapak guide itu baik, meski diawal perjalanan sy udah bilangin bahwa kami gak sanggup bayar mahal-mahal. Kata bapak itu, gpp, seikhlasnya saja.

Kami tidak bisa berlama-lama, takutnya p’suharto menunggu. Sy menyempatkan diri minum teh di warung ibu tempat titip tas. Nitip gak bayar, tapi minimal kita beli sesuatu lah disitu. Cukup banyak pengunjung mulai dari anak-anak balita sampai nenek-nenek. Aduh kasian banget anak n nenek-nenek diajak trekking. Resikonya tinggi, tau. Kalo anak 8 tahun keatas bolehlah diajak.

Saya yang tadinya mau mandi dan ganti baju, mengurungkan niat. Adie memberi saran, lebih baik cari aman dengan langsung naik mobil dan berangkat menuju Surabaya, takut kena macet di Lapindo.

Begitu kami sampai, P’suharto pun juga barusan tiba. Good, semua menepati janji, kami dan P’suharto. Tiba di Terminal Probolinggo jam 12.00, Belinda n Ajeng memisahkan diri karena mereka sedang praktek lapangan di Probolinggo, dan kami langsung mencegat bis ke Surabaya. Dan Alhamdulillah, tidak kena macet di Porong (Lapindo) dan sampai di Terminal Bungurasih jam 15.00. Sy dan Adie berpisah disini. Thanks to all of you, thanks to Adie, thanks to Belinda n Ajeng, kalo kita gak nekad-nekatan pergi, mungkin semuanya sulit terwujud. Even, kalo sy memutuskan solo backpacking mungkin hasilnya juga tidak memuaskan seperti ini.

Kelelahan kami terbayar semua.

Dari terminal naik damri khusus bandara, begitu tiba langsung mandi. Di pintu ada tulisan dilarang mandi. Cuek deh, habis lengket. Apalagi pswt akan transit di Makassar dan sy mau ketemuan sama K’Idrus, Ayha n Dede. Masak belel. Selesai mandi, ngasih salam tempel aja sama petugas Cs-nya.

Jam 18.00 pesawat take off, transit di Makassar. Sayang delay, Sy hanya ada waktu 10 menit untuk bertemu mereka, setelah itu bergegas sambil lari-lari kembali ke pesawat untuk menuju Palu. Hu hu huh. Tapi gpp karena minggu depan kami akan berkumpul bersama lagi semuanya di Palu.

Pengeluaran wajib (starting dari Surabaya):

Kota ke terminal Bungurasih Rp 25rb

Bungurasih-Term Probolinggo 12rb

Term Probo-Cemorolawang 25rb

Penginapan 50rb (300rb/2kmr disharing ber-6)

Jeep 46rb (275rb disharing ber-6)

Tiket masuk Taman Nasional 5rb

Cemorolawang-Air terjun-Terminal Probo 75rb

Jasa guide+tiket masuk 15rb (60rb sharing ber-4)

Term Probo-Term Bungurasih 14rb

Bungurasih-Bandara Juanda 15rb

Total 282 rb

Optional:

Ojek 5rb

Foto dengan kuda 5rb

Makan-minum selama perjalanan 59rb

Beli kupluk n sarung tangan 19rb

Total 88 rb
Kalo ingin menggunakan jasa Operator tur, ada yang menawarkan paket bromo tidak menginap Rp 500rb (dijemput tengah malam di Surabaya), paket bromo menginap semalam 1jt.