Outing Kantor: Bangkok

Kami sepakat hadiah uang tunai yang didapat kantorku Desember kemarin, dipergunakan untuk outing kantor. Biar berasa kenangannya. Memory lasts forever. Jika dibagi dalam bentuk duit, lenyap tak berasa. Jika dibagi dalam bentuk barang, belum tentu semua butuh barang tersebut. Pada sepakat ke Bangkok, mumpung modal hadiahnya besar sehingga kontribusi pribadi gak terlalu besar. Kebetulan pula, pas ada promo diskon 400ribu Jakarta-Bangkok jika beli return dan pake kartu kredit tertentu. Sisa bayar 1.3juta pp. Memang gak semua dapat di harga tersebut tapi setidaknya bisa ngirit. Lebih cepat lebih baik, anak-anak kantor butuh refreshing setelah jor-joran kerja di akhir tahun. Mumpung juga masih awal tahun, aktivitas belum padat. Saya pun butuh momen ke Jakarta untuk mengurus visa UK. Sambil menyelam minum air. Biar tiketnya gratis. Hehehe. Continue reading

Melihat Twin Tower dari Skybar Traders Hotel

Petronas Twin Tower gak ada matinya, selalu saja menarik untuk dipandangi terutama di malam hari. Dan menarik juga untuk mencari sudut pandang baru menikmati menara yang tahun 2004 disebut sebagai menara tertinggi di dunia sebelum Burj Khalifa di Dubai dan Taipei 101 mengalahkannya.

20160904_193801

awesome view from Skybar Traders Hotel

Continue reading

Ketika Salah Bawa Travel Cooker

20160907_120656

great wall of China

Salah satu barang yang wajib dibawa ketika bepergian ke luar negeri adalah travel cooker buat masak nasi, masak air untuk bikin kopi/teh, bikin indomie, rebus telur, dan lain sebagainya. Biasanya sarapan diproduksi sendiri, jadi begitu keluar pagi gak abis waktu buat nyari sarapan. Dan gak keluar duit buat sarapan. Selain itu, entah mengapa gak makan nasi di negara yang gak pentingin nasi sebagai makanan sehari-hari rasanya nelangsa banget.

Saya sudah beberapa kali bermasalah dengan travel cooker. Terakhir di Tiongkok, saya salah bawa travel cooker. Yang saya bawa travel cooker yang rusak di Madinah. Salah saya sih, 3 travel cooker ditaruh berdekatan dan gak ditest dulu sebelum berangkat. Yang rusak pertama setelah 5 tahunan dipakai sudah saya buang kompornya tapi pancinya masih disimpan, yang rusak kedua kompornya masih saya simpan dengan harapan jika ada waktu akan diperbaiki, yang ketiga yang masih baik terakhir di pakai ke Eropa. Kalo pergi berempat (sekeluarga) saya biasanya bawa kompornya 1, pancinya 2. Continue reading

Alhamdulillah Udah nyampe di Medan

Begitu menerima undangan pernikahan anak bos yang diadakan di Medan, langsung terlintas bahwa momen ini merupakan kesempatan buat pergi ke Sabang. Feeling saya, kalo minta cuti  untuk lanjut ke Aceh, besar kemungkinan di-acc sama bos. Minta cuti 2 hari, bos saya nyuruh ambilnya 4 hari dengan hitungan mulai hari Sabtu sampai Selasa. Tahun ini jenis cuti saya adalah cuti besar, jadi hitungannya adalah hari kalender. Tapi ini diluar kebiasaan sih, menghitung Sabtu Minggu sebelum masuk waktu cuti. Biasanya Sabtu Minggu dihitung apabila bercuti sampai hari Jumat. Saya minta kebijakan hitungnya mulai hari Minggu saja, biar hari Rabu saya gak buru-buru masuk kerja. Rencana awal dengan cuti 2 hari, Rabu pagi baru tiba di Palopo langsung masuk kerja. Continue reading

Kue Perahu Nangka

20160717_115218

Saat di pasar lihat nangka, tetiba kepikiran pengen makan kue perahu nangka. Kebetulan pengen bikin barongko juga. Jadi tidaknya bikin kedua kue itu tergantung ketersediaan daun pisang di pasar, kadang suka gak ada stock.. Alhamdulillah ada, mungkin karena masih pagi. Sebenarnya bisa tanpa daun pisang, dibuat di pyrex saja tapi rasanya beda dong gak ada aroma daun pisang. Lebih bagus lagi kalo pake daun pandan, lebih harum, lebih cakep bentuk kotak perahunya dan lebih seragam ukuran kotaknya.

Kue ini biasanya hanya ada saat acara pernikahan, sangat jarang dijual. Yang biasa dijual di toko kue tradisional adalah kue perahu polos tanpa nangka. Ini enak juga sih.  Continue reading

Cookies buat Lebaran

 wp-image-419714351jpg.jpgBulan puasa dan ramadan telah berlalu. Salah satu kegiatan wajib menjelang lebaran adalah bikin kue kering. Satu-satunya alasan kenapa saya masih bikin kue kering sendiri sampai sekarang adalah biar anak-anak saya yang dua-duanya perempuan tetap familiar dan semakin memahami proses bikin kue. Biar mereka bisa punya semangat untuk memasak. Bagi saya, anak perempuan itu harus bisa masak dan luwes beraktivitas di dapur. Yang penting bisa basicnya. Jago masak adalah bonus. Tujuan utamanya agar mereka bisa mandiri dan mamanya gak melulu direpoti dengan permintaan di masakin ini itu padahal sebenarnya gampang seperti masak nasi, bikin telur dadar, bikin nasi goreng dan lain sebagainya.  Bisa masak adalah nilai plus untuk hidup lebih nyaman. Jangan kayak teman saya di kantor, ke pasar bingung lihat udang kok hitam semua gak ada yang merah. Hehehe, parah kan. Dia baru tau udang akan berubah warna jadi merah saat dimasak. Bisa masak adalah salah satu modal untuk hidup mandiri.  Kelak kalo suatu saat mereka hidup merantau, gak melulu ngandalin makan di luar apalagi saat harus berhemat. Untuk rencana jangka panjang, pengennya kolaborasi bertiga untuk punya bisnis berkaitan dengan makanan suatu saat nanti.

Bikinnya gak lama cuman sekitar 14 jam. Jenis kuenya yang mudah-mudah saja, nastar, kastengel, putri salju mente (gulanya pake gula ungu), lidah kucing rainbow, kue kacang, kue cornflake chocochip. Dikerjakan bertiga saja, saya sama anak-anak. Sudah lama gak punya ART. Aya sudah mahir menimbang, mengadon sampai mencetak kue putri salju dan cornflake chocochip. Dede baru belajar menimbang, untuk urusan ngebuletin nastar dan kue kacang dia juga sudah telaten sampai selesai. Kastengel dan lidah kucing rainbow jadi bagian saya. Lidah kucing wajib ada karena memanfaatkan putih telur yang gak terpakai di pembuatan kue yang lain. Ada juga kue gagal. Hihihi. Sampai saat ini belum berhasil bikin kue sagu keju. Mau disemprot gak keluar, padahal sudah gonta ganti tip. Mau dicetak, pas dioven meleber. Jadinya gak bisa dipajang. Buat konsumsi sendiri saja padahal rasanya enak banget. Ada yang bisa berbagi tips anti gagal bikin kue sagu keju?

St Christopher Inn Barcelona

Dalam memilih penginapan, yang saya utamakan adalah kemudahan untuk mencapai lokasi penginapan dan dekat dari mana-mana. Pokoknya gak boleh sampai kita puyeng dan bikin kesasar kesana kemari. St Christopher Inn Barcelona lokasi strategis banget. Starbucks saja ada di seberang jalan hostel ini. Sebelumnya saya pernah nginap di St Christopher Inn Prague, jadi sudah ada bayangan seperti apa hostelnya.

IMG_8442

Tiba di terminal 2 di El Prat Barcelona Airport, kami mengikuti petunjuk arah menuju tempat ambil bus T2. Bus T2 akan membawa ke kota dan turun di bus stop terakhir di Plaza Catalunya. Yang disebut Plaza adalah square atau alun-alun. Kirain gedung. Dari Plaza Catalunya cukup berjalan melintasi Plaza/alun-alun ini kemudian jalan lagi sekitar 100 meter di jalan tempat hostel ini berada. Di sekitar Plaza Catalunya, banyak toko/butik branded, La Ramblas pedestrian street paling ngehits seantero Barcelona, Hard Rock Cafe dan bus stop Barcelona HOHO Bus. Continue reading

Masak nasi pake microwave

Travel Cooker yang kita bawa juga tidak mau berfungsi di hostel di Barcelona. Power listrik di kamar jadi down. Saya kemudian ke pantry, kali-kali aja daya listrik disana lebih tinggi ketimbang di kamar. Nyoba semua colokan di pantry itu malah bikin power listriknya juga down. Travel cooker itu butuh daya 450watt masa sih lebih besar ketimbang dayanya kulkas dan microwave yang ada di pantry tersebut. Gak ada kompor di pantry tersebut, cuman ada 3 microwave dan 1 kulkas. Saya udah pengen buang aja travel cooker, menuh-menuhin koper tapi gak bisa digunakan. Itu travel cooker yang ketiga yang saya beli. Yang pertama, sudah tamat riwayatnya setelah 5 tahun menemani berkeliling dunia, Yang kedua, sukses dipakai di Jepang tapi rusak ketika dipakai di Arab Saudi saat umrah. Penyebabnya karena saya lupa mengganti voltase 110v (di Jepang 110 V) ke 220V. Saya sempat beli kompor listrik di Madinah agar bisa tetap masak nasi. Tapi itu gak dibawa ke Eropa karena bentuknya gak praktis, makan tempat makanya beli travel cooker lagi. Continue reading

Pempek tanpa ikan

Lagi pengen banget makan pempek, pas ada yang posting video step by step bikin pempek  yang ternyata tidak pake ikan. Selama ini gak niat bikin pempek karena rasanya gak pakem kalo gak pake ikan tenggiri. Ikan tenggiri susah didapat di sini, mau ikan lain kayaknya gak ada alternatifnya. Di palopo juga yang jual pempek hanya ada di satu tempat dan menurutku gak terlalu pas. Teman bilang, ada orang palembang yang sering berurusan ke kantor yang jualan kalo kebetulan lagi bikin pempek. Tapi kepengennya sekarang.

20160310_063506

Ternyata pempek gak pake ikan disebut pempek dos. Lumayan sih rasanya walau tanpa ikan. Harumnya dari kaldu bubuk dan kuah cukonya. Dalam 3 hari ini udah 2x bikin karena Nayla doyan banget. Sarapannya itu, siang makan pempek lagi, begitu juga malamnya. Hihihi. Continue reading