Pengalaman ikut Lomba Marathon Stand Up Paddle

kayak-marathon-tirto-mico-7_ratio-16x9

Sumber foto: dari sini

Tetiba ada email konfirmasi keikutsertaan Belitong Geopark International Stand Up Paddle & Kayak Marathon 2019 (BGISKM) yang masuk di email. Rupanya PIC Stand Up Paddle (SUP) di Kantor Pusat yang mendaftarkan. Dalam lomba tersebut ada tiga kategori yang dilombakan, Stand Up Paddle (terbagi lagi subkategori Marathon dan Race), Kayak Marathon, Traditional Canoe. Saya di daftar di 2 subkategori Stand Up Paddl: Marathon dan Race. Pengalaman main paddle baru seiprit udah didaftarin lomba. Hehehe. Anggap saja ini kehormatan ditugaskan sebagai peserta lomba. Lomba ini sudah memasuki tahun kedua dan masih dipusatkan di Tanjung Kelayang Belitong.

Lomba SUP Marathon hari minggu, kami datang sejak hari Kamis sore. Hari Jumat pagi, latihan sekalian mengecek rute marathon. Rute Kayak Marathon start dermaga tanjung Kelayang, Pos 1 Batu Haji, Pos 2 Pulau Babi Kecil, Pos 3 Batu Berlayar dan kembali ke dermaga Tanjung Kelayang dengan jarak 8km. Medannya cukup berat, di pagi itu angin cukup kencang dan di beberapa area ada yang dangkal tapi penuh dengan terumbu karang. Lumayan capeknya dan kita selesai latihan sekitar tengah hari. Sorenya kita ikut pembukaan BGISKM secara resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Babel.

IMG_9434

Awalnya diinfo bahwa Sabtu pagi kita bakal diajak jalan-jalan seputaran Belitung, ternyata diajak untuk main paddle lagi. Kali ini rutenya agak santai gak kayak kemarin. Kita bisa mampir ke Batu Berlayar trus ke pulau  Kepayang santai-santai sambil sekalian makan siang di restaurant. Kayaknya semua paket wisata pulau di Belitung akan mampir makan siang disini. Tempat makannya luas banget dan menyajikan hidangan laut khas belitung seperti kepiting, ikan dan sebagainya. Lumayan bisa ngadem disini. Setelah itu kita lanjut ke Pulau Lengkuas naik perahu. Semua paddle dinaikin di perahu. Rencananya dari sana, baru pulang ke dermaga Tanjung Kelayang pake paddle. Asyik ke Pulau Lengkuas yang terkenal dengan mercu suarnya. Kesampaian juga kesini meski gak naik ke mercusuarnya.

IMG_9433

Semakin sore, ombak dan angin semakin kencang yang menyebabkan kami urung paddling ke dermaga. Jadinya naik perahu. Iyalah sekalian nyimpan tenaga buat lomba besok.

It’s a race day.

Kita udah di lokasi lomba sekitar jam 5 pagi. Saya yang agak telat hanya kebagian Stand Up Paddle Inflatable alias Stand Up Paddle Soft Board. Papannya harus di pompa dulu mencapai tekanan tertentu baru bisa dipakai. Sebenarnya saya lebih nyaman dan lebih  pede pake yang SUP Hard Board karena lebih stabil dan mengayuh bisa lebih cepat. Hard Board milik kantor udah pada di tag sama peserta lainnya. Jadi pasrah aja pake Inflatable SUP.

Perbandingan Inflatable Paddle Board dengan Hard Paddle Board antara lain:

  • Dari segi harga: Inflatable paling murah ada 5.75juta sementara Hardboard paling murah 10juta.
  • Dari segi Portabilitas: Inflatable lebih mudah dibawa kemana-mana dan lebih mudah dibawa sendiri. Setelah dipakai cukup di kempesin, digulung dan di taruh dalam tasnya. Sementara Hardboard perlu ada penanganan khusus, jika pake mobil biasa harus menggunakan roof rack atau menyewa pick up.
  • Dari segi penyimpanan: Inflatable gak makan tempat saat disimpan, sementara Hard Board pastinya makan tempat.
  • Dari segi keamanan: Inflatable lebih aman jika terjadi benturan  karena permukaan yang soft berbeda dengan hard board yang terbuat dari fiber. Karena itu inflatable lebih disarankan bagi pemula. Cocok juga bagi yang ingin melakukan yoga diatas board.
  • Katanya sih Inflatable lebih tahan lama. Tapi tergantung sama kualitas Inflatable board. Inflatable board yang bagus memiliki ketebalan 5-6 inch dan dengan tekanan angin yang tepat akan membuat performance inflatable board lebih baik. Hanya disarankan jika sudah tidak dipakai segera dibawa ke tempat yang lebih teduh. Hard Board jika sudah terjadi keretakan akan mengurangi daya apung dan mempengaruhi performance
  • Dari sisi kecepatan, lebih cepat Hard Board sih dibanding inflatable. Tapi ini juga tergantung kemampuan mendayung.
  • Dari sisi stabilitas, Hard board lebih stabil dan lebih bagus pada saat kondisi air bergelombang.

Jam 6.00 kita sudah berada di bibir pantai dengan memegang SUP Board dan Dayung masing-masing. SUP Women mulai lebih dahulu kemudian disusul SUP Men 30 menit kemudian. Angin lumayan kencang, ombak pun beriak. Tidak mudah mengayuh SUP jadinya. Saya sempat jatuh sekali, namun bisa segera naik kembali. SEsuai dengan aturan lomba, peserta wajib berdiri dan mendayung sampai garis finish. Boleh duduk asalkan tidak mendayung atau untuk keperluan istirahat. Yang jadi tantangan juga adalah tidak terjebak di terumbu karang. Di sekitar area marathon banyak sekali area terumbu karang yang gak keliatan. Saat kita mendayung di laut dan gak keliatan tau-tau kita sudah berada di area terumbu karang. Saya dua kali terperangkap di area terumbu karang ini dan harus hati-hati agar SUP board tidak tergores jangan sampai bocor halus. Mau tak mau saya menginjak terumbu karang, hiks. Kaki saya gak kenapa kenapa tapi kesian terumbu karangnya.

Ada 3 pos yang harus dilalui pada Rute SUP Marathon Start Dermaga Tanjung Kelayang, Pos 1 Batu Haji, Pos 2  Pulau Babi Kecil, Pos 3 Batu Berlayar dan Finish Dermaga Tanjung Kelayang.  Jarak kurang lebih 8 km dan di setiap pos wajib mencollect bendera kecil tanda bukti sah melewati rute yang benar. Di pos 1 kita tidak perlu turun dari Paddle panitia akan membagikan bendera pos 1, di pos 2 wajib turun mengambil bendera pos 2 sekaligus disediakan pisang disini dan di pos 3 juga wajib turun untuk hal yang sama. Saya memilih untuk mengabaikan makan dan minum karena gak mau kehilangan waktu. Tenaga udah mau habis melawan angin dan ombak. Beberapa peserta udah pada kelelahan  duduk sambil mendayung. Padahal aturannya gak boleh.

Saya finish dengan waktu 3Jam 05 menit, masih masuk COT 3 jam 30 menit. Alhamdulillah.

Saya sudah gak mampu lagi untuk ikut SUP Race yang dilaksanakan sekitar jam 10.30. Panas banget trus udah merasakan tantangan angin dan ombak saat SUP Marathon. Dan tentunya semakin siang, angin dan ombak makin kenceng. Sementara saya masih kelelahan. Coba SUP Race tadi sebelum SUP Marathon.

Sore itu saya langsung balik Makassar.

0209E393-2EF3-475E-8D45-E69436D3BACE

IMG_9472

63b63dd5-8406-4a1b-842d-3aad71671b44

9d47fa8e-5626-4da3-9386-59719f15d70b

Advertisements

Jalan-jalan di Muscat, Oman

This slideshow requires JavaScript.

Sepulang dari Moscow, pesawat kami bakal transit lama di Muscat, Oman. Tiba jam 6 pagi di Muscat Airport dan bakal terbang lagi lepas tengah malam. Jadi waktu transit bakal kami manfaatin buat jalan-jalan di kota Muscat. Saya memilih untuk sewa mobil selama 1 harian. Maksudnya biar nyantai dan ada tempat buat ngadem secara Muscat saat itu panasnya luar biasa. Bisa mencapai 40 derajat Celcius.  Tadinya saya jauh-jauh hari udah booking mobil sewa di Rentalcars.com seharga 1.7juta/hari untuk jenis mobil Pajero dan sejenisnya. Eh beberapa hari sebelum hari H, ada penawaran dari Europcar untuk jenis mobil yang sama seharga 1.1juta/hari. Itu udah termasuk sewa car seat untuk baby Ghazy. Jadinya kami batalkan Rentalcars trus booking lagi. Lumayan menghemat.  Kami total bertujuh makanya sewa mobil yang sesuai dengan banyaknya penumpang. Mbak Ajeng, seorang kenalan di milis Backpackerdunia pengen gabung karena kita pulangnya pake pesawat yang sama. Jika cuma bereempat, nyewa mobil kecil kayak Yaris cukup murah.

Begitu tiba di Muscat Airport, kami menuju Imigrasi. Sempat ada kekuatiran mengingat E-visa kami tidak ada hard copynya karena apply saat transit di  bandara Muscat sewaktu menuju Moscow. Ternyata E-visa Oman cukup ditunjukkan aja melalui hp. Counter Europcar dan counter rental mobil lainnya ada setelah imigrasi. Proses ambil kunci cepat saja dan kami diarahkan untuk mengambil mobilnya di parkir mobil bandara. Kami diberi mobil Fortuner setir kanan. Sebenarnya saya sendiri belum punya pengalaman setir kanan cuma ngeliat aja selama pak suami nyetir mobil di Eropa awal tahun ini. Mbak Ajeng yang jadi navigator. Dia sebenarnya juga barusan keliling swiss dengan nyewa mobil dan nyetir sendiri. Cuma berhubung saya yang booking makanya saya yang jadi driver. Bisa nambah driver cadangan tapi nambah biaya lagi. Prinsip saya kalo gak dicoba ya gak tau rasanya. Dan setelah dicoba, diawal memang agak kagok dan setelah itu biasa. Saya juga masih punya pe-er saat melewati roundabout alias bundaran, masih suka melaju padahal kendaraan yang udah masuk duluan di bundaran harus diberi jalan lebih dahulu. Alhasil menuai klakson, hehehe.

Kami cuma berkeliling di dalam kota. Mau ke padang pasir, butuh waktu 2-3jam dan panasnya gak kuat banget. Tujuan pertama adalah ke Masjid Agung Sultan Qaboos, masjid yang dinamai sama dengan Raja yang sedang memerintah saat ini. Diresmikan di tahun 2001 merupakan masjid dengan karpet terbesar kedua di dunia dengan ukuran 60x70m tanpa sambungan dan mempunyai lampu chandelier yang juga terbesar kedua di dunia. Masjid ini terbuka untuk wisatawan baik muslim maupun non muslim hanya sampai jam 11 siang dan setelah itu ditutup hanya untuk keperluan shalat saja. Ruang shalat wanita terpisah dari dari ruang shalat pria. Anak-anak dibawah umur 10 tahun tidak diperbolehkan berada di ruang shalat. Mungkin untuk menjaga ketenangan dan kenyamanan beribadah. Tadinya Ghazy saya temani di luar tapi karena diluar panas, saya ajak aja Ghazy masuk sambil digendong sekalian ngadem. Petugas keamanan hanya melihat dan tidak melarang.

Berikutnya kita ke Muttrah Souq, pasar tradisional yang terkenal di Muscat yang terletak di pinggir pantai. Nyari parkirnya susah banget. Saya harus berkeliling beberapa kali sampai akhirnya dapat parkir tetap di tempat agak jauh dari Muttrah Souq. Terpaksa berpanas-panas ria berjalan kaki menuju ke Muttrah Souq

. Disini cuman beli souvenir berupa magnet kulkas, gak banyak cukup sebagai penanda pernah kesini. Bayar pake duit Oman Riyal (OMR) hasil tukar tadi di bandara. Uang Rubel Rusia yang tersisa saya tukarin ke OMR.

Kita ke Istana Al-Alam, istana Sultan Qaboos yang digunakan pada saat menerima tamu kenegaraan. Al-Alam artinya bendera dalam bahasa Arab. Istana ini merupakan salah satu dari 6 istana yang dimiliki Sultan dan dikelilingi Benteng Mirani dan Benteng Jalali yang dibangun Portugis pada abad ke-16. Cuma saya sama Ajeng yang turun foto-foto disini, yang lain pada mager. Udah ilfil karena panas menyengat.

Kami break untuk makan. Pilihan makan adalah restaurant Bait Al Luban. Restaurant Bait Al Luban menyajikan hidangan khas Oman. Terletak di pinggir pantai dan berhadapan langsung dengan pasar ikan dan pelabuhan. Saya kira resto biasa ternyata merupakan resto premium. Dilayani sama waiter, ada serbet kain yang ditata di atas piring. Baiklah udah terlanjur disini sekali-sekali makan agak proper mumpung halal. Di Rusia, kami lebih banyak makan makanan yang kami bawa dari Indonesia. Menu yang direkomendasi adalah Shuwa, Qabouli Laham.  Shuwa adalah daging panggang yang disajikan dengan nasi putih dan saus lemon bawang putih. Qabouli Laham adalah nasi yang dicampur dengan potongan daging domba. Kita pesan keduanya plus kentang goreng, nasi putih, ayam goreng dan masih ada satu menu yang lupa namanya. Seenak-enaknya makanan tradisional disana, rasanya gak terlalu cocok di lidah kami. Dagingnya beraroma sangat kuat, seperti makan daging kambing yang masih bau prengus. Nasinya seperti nasi kebuli yang banyak rempah. Alhasil nasi putih dan ayam goreng yang habis duluan, yang lain masih bersisa. Kita juga disuguhi Kahwa, kopi khas Oman sebagai compliment. Total kita bayar sekitar hampir 1juta.

Lanjut ke Baj Oman yang berada di dekat hotel Shangrila, sekitar 30menit dari kota. Tujuannya hanya pengen foto di tulisan gede ‘Baj Oman’. Disekitar sini bisa melihat teluk Oman, pelabuhan yang dikeliling oleh yacht-yacht.

Masih banyak waktu yang tersisa dan kita udah bingung mau kemana. Jadi kami menghabiskan waktu di Mall of Muscat. Nyari tempat ngadem sekalian cuci mata dan cari oleh-oleh makanan khas sini di supermarket yang ada di mall ini. Saya perhatikan ‘Omani’ sebutan untuk warga lokal Oman, satu model semua cara berpakaiannya. Rupanya peraturan berpakaian di Oman cukup ketat. Wanita Oman wajib menggunakan abaya hitam meski didalamnya masih pake jeans atau pakaian warna warni dan  pria Oman wajib menggunakan ‘didasha’ gamis terusan  berwarna putih dengan kopiah khas Oman.

Sekitar maghrib kami kembali menuju airport. Batas waktu mengembalikan mobil  jam 9 malam, sebenarnya masih bisa mampir ke satu tempat, tapi udah gak ada ide lagi. BBM kami isi agar sesuai isinya dengan waktu ambil tadi yaitu setengah full tank. Alhamdulillah aman.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Muscat adalah sekitar bulan November-Februari dimana udara cukup sejuk dan bisa santai berjalan-jalan di pinggir pantai. Kami mengunjungi kota ini di bulan yang sepertinya matahari berada di dekat kita, hehehe.

Transit di bandara Muscat, Oman

IMG_5206

Transit di Bandara Muscat

Tergiur dengan promo Oman Air, jadilah saya mengissued tiket Jakarta-Moscow buat berempat minus pak suami. Tadinya kepikiran dengan lamanya transit di Muscat, perginya transit 18jam di Muscat, pulangnya transit 19 jam di Muscat pula. Namun menimbang dan memperhatikan referensi teman-teman traveler, yah coba dinikmati saja transitnya. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekali jalan, bisa dapat 2 negara yaitu Oman dan Rusia. Muscat itu ibukota Oman, negara kaya di teluk Arab. Oman Air memang lagi promo terus-terusan utamanya ke Eropa tapi hampir semua rute dengan transit yang panjang waktunya. Harga tiket Jakarta-Moscow pulang pergi sekitar 6,3juta yang diissued sekitar 3 bulan sebelum berangkat. Teman lain malah ada yang dapat lebih murah.

Dari Makassar kami terbang dengan pesawat yang pagi banget ke Jakarta. Masih banyak jeda waktu dengan pesawat ke Muscat, tiba di Jakarta sekitar jam 07.00 sementara pesawat ke Muscat terjadwal jam 14.50 . Tapi lebih baik cepat, ketimbang mepet-mepet tiba di Jakarta kan. Berbahagialah kalian yang tinggal di Jakarta, gak banyak effort untuk jalan ke luar negeri.

Pesawat yang ke Muscat adalah jenis Dreamliner 787 dengan formasi 2-4-2, sepertinya minjam pesawat Srilanka Air karena layar Inflight Entertainment menampilkan logo Srilanka Air meski semua property seperti selimut, alas sandaran kepala, majalah dan sebagainya berlogo Oman Air. Tampak banyak sekali jamaah umrah yang naik pesawat ini. Agak crowded saat naik pesawat karena mereka sibuk saling menukar kursi agar dapat duduk bersama orang terdekatnya. Saya yang dapat kursi paling depan di zona bagian belakang sedikit terganggu dengan cukup banyak yang lalu lalang didepan kami.

Begitu lepas landas saya iseng meminta bassinet untuk Ghazy. Dulu waktu naik Royal Jordanian, persyaratan yang bisa pakai bassinet itu adalah bayi sampai umur 9 bulan dan bassinet harus direquest secara online. Tapi ternyata tanpa saya request, malah disediakan bassinet. Padahal umur Ghazy saat itu sudah 1 tahun 4 bulan.

IMG_5170

Pramugaranya menanyakan berat badan Ghazy. Batasan maksimum berat badan bayi untuk bassinet Oman Air adalah 11kg. Ghazy masih 10kg jadi masih bisa menggunakan bassinet meski panjang bassinet sebenarnya udah gak pas untuk Ghazy. Lumayan ada tempat buat Ghazy bobok sehingga gak perlu sering-sering dipangku.

Transit pertama di Muscat saat menuju Moscow, saya memutuskan untuk stay di bandara saja. Pulangnya baru keluar jalan-jalan di kota Muscat. Sayangnya Oman gak bebas visa dan harus apply online. Single entry 5 OMR (Oman Riyal) atau sekitar 198ribu, Double entry 30OMR. Coba bebas visa akan lebih mudah kalo mau bolak balik. 1 Oman Riyal setara hampir 40000IDR, hiks sedih.  

Saya memesan kamar di hotel bandara, yang unik harga pemesanannya mulai dari harga per 6jam,12jam, ataupun 24 jam. Jadi disesuaikan kebutuhan dan budget. Saya milih yang 6 jam saja, meski kita transitnya sekitar 18jam. Harga kamar untuk 6 jam saja  1,25juta rupiah. Supaya benar-benar efektif, kita check in menjelang tengah malam, biar bisa tidur pulas dan paginya bisa  mandi sebelum check out. Tiba di bandara Muscat International Airport, kita cari makan. Gak banyak pilihan cuma ada KFC, MCDonald, Resto tunjuk-tunjuk ala Timur Tengah, 1-2 cafe dan beberapa lounge bandara. Bandara Muscat meski baru tapi kecil, 15 menit mutar-mutar juga udah hafal. Bandaranya rame banget, nyaris semua tempat penuh dengan orang yang menunggu saat transit.  Kita makan di KFC, 3.5OMR udah dapat 5 ayam, 1kentang, 1salad, 1 roti dan 2 minum. Harga nasi di KFC lebih mahal daripada kentangnya, nasinya kayak nasi briyani. Ayamnya enak banget. Sampai-sampai 4x makannya di KFC melulu. Di Mcd cuma nyoba es krim Mc Flurry yang dibandrol 1 OMR, hiks. Semua transaksi gak perlu tunai, jadi gak usah susah-susah tukar uang atau tarik ATM. 

IMG_5180

Antrian untuk ngambil password wifi Muscat airport

 

WIFI di bandara Muscat gratis tapi untuk dapat password wifi harus scan passport. Gak susah menemukan mesin scannya, cari saja yang antriannya mengular. Kalo gak salah hanya ada 2 mesin. Masa pemakaian wifi hanya 3 jam, jika habis scan lagi passport.

Setelah makan, kami menuju Aerotel Muscat Airport. Maksud hati mau nunggu di lobbynya sampai tengah malam. Saat saya menyampaikan bahwa saya sudah reservasi tapi mau check in tengah malam dan minta ijin untuk stay di lobby, petugasnya bilang maaf gak bisa Karena waktu check in masih sekitar 2 jam lagi. Jadinya kita nongkrong di dekat hotel, kebetulan ada beberapa kursi kosong yang cukup nyaman.

Saat check in, saya dikenakan charge extra bed 10 OMR. Kami berlima plus 1 baby booking 2 Kamar. Sebenarnya kamarnya lega banget meski tanpa extra bed. Di kamar, kasurnya king size plus ada sofa panjang. Tapi kalo sudah begitu kebijakannya ya kita terima saja. Petugasnya ngasih extra 30 menit jadi check out jam 6.30. Masuk kamar, segera cuci muka, pasang alarm jam 5 lalu bobok. Alhamdulillah tidurnya pulas. Saya masih sempat masak nasi, buat sarapan dan buat bekal sebentar, anak-anak pengen makan nasi putih dengan ayam KFC. Nasi yang dijual di KFC nasinya kuning ala Timur Tengah yang dimasak dengan minyak.

Setelah check out, kami kembali nongkrong di tempat yang sama dekat hotel.  Nyaman karena tidak banyak orang di lantai atas ini.  Saya menghabiskan waktu untuk apply visa Oman online untuk semua. Yang dibutuhkan sebagai lampiran adalah passport (file dalam pdf), foto 3×4 (file jpg) dengan ukuran file gak boleh lebih dari 500kb. Cukup lama prosesnya karena kendala di ukuran file, scan passport format jpg, atau blur.  Dari 6 yang mengajukan, 4 langsung approved gak lama Setelah mengajukan. Yang dua lagi minta di kirim ulang pasport. Awalnya saya sempat bingung karena diemail, alasan yang menyebabkan visa belum di approved ditulis dalam bahasa Arab. Saya ke petugas hotel minta tolong diterjemahkan, eh petugasnya bilang baiknya pakai google translate. Duh, nyebelin gitu aja gak mau bantu. Tapi setelah dipikir ya ada benarnya juga dia, bisa saja setelah di bantu malah minta bantuan terus mending dia membiasakan orang nyari tau sendiri dulu. Passport di scan ulang trus diattach di aplikasi e-visa. Setelah itu ada. email notifikasi bahwa 1 visa sudah diapprove. Sisa visa baby Ghazy yang belum di approve, ternyata bukan dokument passportnya yang masalah tapi fotonya. Yang saya lampirkan emang foto biasa bukan foto untuk visa yang latar belakangnya putih. Untungnya Setelah nyari ketemu foto visa baby Ghazy. Dan alhamdulillah akhirnya approved juga semua.

Pulang dari Moscow transit di Muscat, kita langsung keluar bandara. Ceritanya disini. Sayang balik bandaranya terlalu cepat, jadinya bete nunggu sampai tiba boarding jam 02 pagi. Gak ada tempat nongkrong yang nyaman. Tempat kita nongkrong yang lalu udah full, ke mushalla juga gak enak kalo bawa baby kuatir mengganggu kenyamanan ibadah yang lain, lounge yang gratis juga full, yang tersisa cuma  kursi panjang yang gak terlalu nyaman. 

IMG_5169Kalo ditanya kesan tentang Oman Air, saya ogah naik Oman Air lagi  jika harus transit lama. Mati gaya dan harus keluar biaya ini itu. Kalo transit sekitar 4 jam-an bolehlah. Untuk pelayanan di dalam pesawat, jika dibandingkan dengan maskapai lain, Oman Air masih standar banget. Saat membagikan makanan, kalo kitanya tidur gak dikasih makan. Di lain kesempatan, pramugara yang tugasnya melayani area tempat duduk saya lewat-lewat saja bawa trolly minuman panas, yang gak minta gak dikasih. Trus pas ada lewat lagi, saya minta kopi susu baru dikasih tapi tanpa gula.  Pas minta gula, pramugarinya bilang gula sudah habis. Kalo maskapai lain biasanya pramugarinya sering lewat bawa gelas-gelas teh/kopi/air mineral dan menawarkan sana sini, di Oman air saya gak liat. Dari sisi penampilan, pramugarinya lumayan cantik-cantik tapi pramugaranya kurang ganteng. Dari sisi keramahan, gak ada kesan ramah dan kurang senyumnya. Dari rasa makanan, makanannya kurang cocok dilidah saya dan group saya lainnya. Banyakan disisa.  

Kalo kamu pernah gak transit lama banget di bandara dan apa yang kamu lakuin?

 

One day trip ke Yehliu Geopark, Keelung, Jiufen dan Shifen

IMG_0797Cuma 3 hari di Taiwan? Cepet amat. Begitu komentar seorang cowok asal Malaysia yang beberapa kali papasan di Yehliu, dalam perjalanan dari Keelung ke Jiufen dan di Jiufen. Dia sendiri menghabiskan 8 hari di Taiwan. Ya gitu deh, susah dapat cuti lama-lama. Hak cuti saya sekarang udah 15 hari kerja, tapi paling banyak bos ngasih cuti 5-6 hari saja. Selebihnya susah mau dapat cuti sebanyak itu lagi. Jadi meski cuma 3 hari, disyukuri saja. Sisa bagaimana memaksimalkan waktu yang ada.

Jam 8.30 kami baru start dari hostel. Kami mau ke sedikit melipir ke luar kota Taipei. Dari hasil browsing, dalam 1 hari kita bisa ke Yehliu Geopark, Jiufen, Shifen dan Keelung. Asal startnya bisa lebih pagi. Rencananya kami mengkondisikan saja, kalo cukup waktunya ke semua tempat itu. Karena malamnya masih mau ke night market dan nyari warung Indonesia di Taipei City Mall. Tujuannya segitu banyak apa gak capek? Ya capek tapi dinikmati saja mumpung cuma berdua dan kita dari dulu udah terbiasa jalan marathon kayak gini. Walk till you drop. Sekalian olahraga. Continue reading

Chiang Kai Sek Memorial Hall

IMG_0482

Ada dua persamaan Taipei dengan Makassar. Kotanya sama sama hot dan tidak ada perbedaan waktu antara Taipei dan Makassar. Duh, begitu keluar dari bandara angin panas menyengat begitu terasa. Suhunya mencapai 30 derajat Celcius padahal ini sudah masuk musim gugur. Ternyata meski termasuk negara 4 musim tapi jarang muncul salju di Taipei. Kirain ke Taipei bisa ngadem hehe.

Tempat pertama yang kita kunjungi saat di Taipei adalah Chiang Kai Sek Memorial Hall (CKS Memorial Hall). Berlokasi di jantung kota Taipei, tempat ini sangat populer dan dibangun untuk mengenang mantan Presiden Republik Tiongkok, Chiang Kai-Shek yang memerintah cukup lama dari tahun 1948-1975. Bisa dibilang ini merupakan salah satu landmark kota Taipei dan banyak dikunjungi oleh wisatawan.

IMG_0534

Di depan Memorial Hall ada alun-alun dinamai Liberty Square. Di sisi alun-alun ini terdapat taman yang sangat cantik dan tertata apik. Juga diapit oleh 2 gedung: 1 gedung konser nasional dan satunya lagi gedung teater nasional.

Atap oktagon atau persegi 8 Memorial Hall dalam filosofi China melambangkan kelimpahan rezeki dan keberuntungan. Di dalam Memorial Hall, ada patung CKS yang sedang duduk dan dijaga oleh 2 prajurit berseragam putih yang berdiri kokoh dan kuat (semen kali ya). Tapi bener, mereka berdirinya kayak patung loh. Katanya sih ada upacara pergantian penjaga setiap jam 10.00 dan 16.00. Pas kita datang udah lewat upacaranya dan memang kami tidak berlama-lama di Memorial Hall. Mau buru-buru ke Elephant Hill.

IMG_0415

 

 

 

Taipei Easy Card

IMG_1053Selama di Taipei dan pinggiran kota Taipei, kami menggunakan Easy Card untuk transportasi umum seperti bus dan MRT. Dengan kartu ini kita gak perlu repot nyiapin duit receh kalo naik bus atau beli tiket di mesin tiap kali mau naik MRT. Dengan Easy Card, kita bakal hemat 20% untuk naik MRT.  Convenience store seperti 7/11, Family Mart dan beberapa supermarket juga menerima Easy Card sebagai alat pembayaran. Jadi saat tiba di Bandara Taoyuan sampai balik lagi ke bandara Taoyuan cukup pakai kartu itu. Saya beli kartunya 100NTD, desainnya beraneka ragam. Ada seri Sanrio, Hellokitty, Pikachu, Sailor moon atau lainnya. Beda tempat beli, beda juga design Easy Card yang dijual. Untuk bisa dipakai kita harus isi kartu terlebih dahulu. Saya ngisi Easy Card senilai 1000NTD di 7/11 yang ternyata kebanyakan jika ngetrip 3 harian. Padahal itu udah ngetrip ke luar kota seperti ke Yehliu Geopark, ke Keelung, ke Jiufen ataupun naik kereta lokal ke Shilin dan ke bandara bolak balik. Masih tersisa 280NTD atau sekitar 120ribu saat kami tiba kembali di bandara Taoyuan.

Sempat bingung antara mau refund atau dipakai belanja di 7/11 untuk ngabisin duitnya. Refund bisa diperoleh pada saat pengembalian kartu yang dapat dilakukan di kounter informasi di setiap Taipei Metro station. Ada handling charge 20NTD. Pada saat beli Kartu seharga 100NTD, itu merupakan deposit awal yang juga bisa di refund. Tapi ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Pemakaian kartu diatas 5 tahun, deposit itu fully refunded. Tapi kalo dibawah 2 tahun, deposit itu hangus. Diantara 2-5 tahun nilai pengembaliannya bervariasi. Info valid refund ada disini. Jadi kesimpulannya kalo mau refund, kartunya harus kembali, kena handling charge 20NTD dan deposit 100NTD tidak kembali. Jadinya saya memilih untuk menghabiskannya di 7/11. Kartunya bisa jadi souvenir atau kenang-kenangan. Atau suatu saat bisa balik lagi ke Taiwan dan menggunakan kembali kartu itu. Beli Indomie goreng kemasan pop mie, langsung siram disitu. Beli coklat bar Kinder Joy buat oleh-oleh anak-anak, snacks kayak Lays, minuman dan lain sebagainya. Buat bekal di pesawat yang emang gak nyediain makanan gratis.