BANYAK TURIS DI ITALIA

Hawa turis sudah berasa banget di Airport Fiumicino Leonardo Da Vinci. Rame banget yang menunggu bus menuju Rome City Centre/Termini Station. Mungkin juga karena harganya yang murah. Lagi promo hanya 8Euro pp, disbanding naik kereta 14E sekali jalan. Banyak calon penumpang sudah kesel karena terlalu lama menunggu. Seorang wanita protes dan bertekad naik bis, kesel melihat ada penumpang lain yang datang belakangan diperbolehkan naik. Protesnya berhasil. Giliran pria Jepang berteriak-teriak juga terlalu lama menunggu. Petugas yang mengatur dengan santainya bilang “Jangan teriaki kami, jika tidak suka, saya tinggal mengembalikan duit pembeli karcismu”. Si pria Jepang tetap berteriak, “Kenapa tidak boleh?” Sampai akhirnya setelah debat kusir dia memilih pergi meninggalkan tempat itu, tidak berminat lagi untuk menunggu. Si Petugas itu bilang, bus akan datang 7 menit lagi. Yang lain berkomentar, it’s another seven Italian minutes. Petugasnya cumin nyengir. Tapi benar busnya datang gak lama. Tiba di Termini Station, kami menuju hostel kami yang jaraknya sekitar 400meter dari station. Agak kebingungan tanpa peta karena di airport gak ada peta gratis. Hanya ada petunjuk arah di voucher hostel tersebut. Begitu sampai di Jl Castelfidardo no 31, bingung lagi karena gak ada plang nama hostel ini. Hanya ada informasi bahwa untuk check in di Papaya Female Hostel dapat check in di Hotel Papavero yang beralamat Jl Castelfidardo No 50. Itu artinya ada diseberang jalan. Gak ada plang hotel, bingung lagi bagaimana cara masuk kedalam pintu besar itu. Mencet bel yang berlabelkan Hotel Papavero, dan pintunya terbuka. Gitu toh. Hotelnya di lantai 2. Check in membayar 98E termasuk local tax sebesar 8Euro untuk 2malam dan 2 orang, Balik lagi ke seberang jalan, kali ini diantar sama resepsionisnya. Di balik pintu Jl Castelfidardo No 31 itu ada beberapa hostel/hotel maupun flat pribadi. Papaya Female Hostel di lantai 2. Untuk menuju keatas bisa naik tangga, bisa pula naik lift jadul kapasitas 2 orang. Jadul karena terdapat 2 pintu lift, satunya dari besi dan satunya lagi pintu kayu, Setelah masuk, pintu itu harus ditutup semua, barulah lift bisa berjalan. Resepsionis memberikan kunci sebanyak 4 buah untuk masing-masing dari kami. Satu kunci buat pintu besar paling luar, satu kunci untuk pintu masuk hostel, 1 untuk pintu masuk kamar dan satunya lagi untuk loker. Terpaksa beli peta rome dan Vatican dengan harga 4Euro, karena di bandara tidak nampak yang gratisan. Kami memutuskan hari ini keliling-keliling dengan berjalan kaki saja karena udah sore. Nanggung beli tiket day pass karena hanya berlaku sampai jam 12 tengah malam. Besok saja kami membeli tiket terusan karena kami mau ke Vatican dan daerah-daerah yang agak jauh. Kami mulai dengan mengunjungi Colloseo dengan berjalan kaki kurang lebih 1,2km. Dalam perjalanan ketemu Mc D. Mampir makan Fish fillet dan es krim pistachio yang yummy. Mampir pula di toko kamera membeli memory card buat camera untuk kedua kalinya. Kalo dihitung-hitung sampai hari ke 10 kami sudah menghasilkan 1000 foto sekitar 8 GB. Kami sempat memindahkan isi memory card sewaktu nginap di flatnya mbak Shifa di Budapest dan cukup banyak yang kami hapus karena memory full melulu. Banyak sekali pedagang souvenir di Colloseo, rata-rata keturunan India dan sedikit memaksa. Tapi kami cuek saja. Colloseo agak lengang, mungkin karena sudah jam 06 sore. eropa11 Kolosseum adalah sebuah peninggalan bersejarah berupa arena gladiator, dibangun oleh Vespasian. Tempat pertunjukan yang besar berbentuk elips yang disebut amfiteater atau dengan nama aslinya Flavian Amphitheatre, yang termasuk salah satu dari Enam Puluh Sembilan Keajaiban Dunia Pertengahan. Kolosseum dirancang untuk menampung 50.000 orang penonton. Rekonstruksi Koloseum dimulai dari perintah Raja Vespasian tahun 72 M dan terselesaikan oleh anaknya Titus pada tahun 80 M. Di Koloseum pada saat itu adalah tempat penyelenggaraan sebuah pertunjukan yang spektakuler, yaitu sebuah pertarungan antara binatang (venetaiones), pertarungan antara tahanan dan binatang, eksekusi tahanan (noxii), pertarungan air (naumachiae) dengan cara membanjiri arena, dan pertarungan antara gladiator (munera). Selama ratusan tahun itu, diperkirakan ribuan orang maupun binatang mati di pertunjukkan Koloseum. Koloseum berukuran cukup besar. Dengan tinggi 48 m, panjang 188 m, lebar 156 m dan luas seluruh bangunan sekitar 2.5 ha membuat Koloseum terlihat begitu besar dan luas. Arenanya terbuat dari kayu berukuran 86 m x 54 m, dan tertutup oleh pasir. Bentuk elips atau bulat dari Koloseum gunanya untuk mencegah para pemain untuk kabur ke arah sudut dan mencegah para penonton untuk berada lebih dekat dengan pertunjukan. Koloseum masih digunakan sampai tahun 217, meskipun telah rusak kebakaran karena disambar petir. Koloseum telah diperbaiki pada tahun 238 dan permainan gladiator berlanjut sampai umat kristen secara berangsur-angsur menghentikan permainan tersebut karena terlalu banyak memakan korban jiwa. Bangunan tersebut digunakan untuk menyimpan berbagai macam jenis binatang sampai pada tahun ke 524. Dua gempa bumi pada tahun 442 dan 508 menyebabkan kerusakan yang parah pada bangunan tersebut. Di Abad pertengahan, Koloseum rusak sangat parah akibat gempa bumi lagi yakni pada tahun 847 dan 1349 dan dijadikan sebagai benteng dan sebuah gereja juga didirikan disana. (sumber: Wikipedia) Dari sini kami terus berjalan mengikuti arus turis. Pokoknya dimana-mana turis dengan peta ditangan. Sampailah kami di The Monumento Nazionale a Vittorio Emanuele II (National Monument to Victor Emmanuel II) atau Altare della Patria (Altar of the Fatherland) atau “Il Vittoriano” adalah monument marmer putih yang dibangun untuk menghormati Victor Emmanuel, raja pertama di Uni Italia yang selesai pembangunannya tahun 1935. Sayang sudah tutup, jadi gak boleh masuk dan naik ke monument ini. IMG_5132 Ternyata Trevi Fountain itu terletak di area yang sempit, berada di daerah padat dengan bangunan. Kirain luas seperti fountain yang terletak di piazza lainnya. Berbeda dengan apa yang ada di benak saya. Dan kalo gak salah ingat, di film When In Rome digambarkan Trevi Fountain ini berada di area yang luas. Harus nonton lagi nih film. Mungkin juga karena ramai sekali turis yang mengunjungi sehingga area ini kelihatan sempit. Nampak beberapa orang yang mencoba ritual lempar koin ke fountain tersebut dengan harapan dapat jodoh. Kami mencoba es krim Italia dan pizza vegetarian di café yang ada di sekitar Trevi Fountain ini. Es krimnya enak banget. Di dekat Trevi Fountain ini, banyak sekali penjual souvenir. Kami menyempatkan diri membeli beberapa souvenir, rasanya harganya wajar jika membandingkan harga souvenir yang ditawarkan di pedagang keliling di Colloseo. Jalan-jalan yang tampak sama membuat kami beberapa kali kesasar sewaktu pulang ke hostel. Untung ada peta yang jadi patokan kami. Keesokan harinya, ke stasiun Rome Termini, beli tiket day pass buat berdua. Mesinnya yang cuman beberapa membuat antrian untuk beli tiket cukup panjang. Harus menyiapkan euro pecahan <10 Euro. Pecahan 20 E keatas gak mau diterima. Kami ke Vatican, St Peter Basilica. Keindahan St Peter Basilica ini jadi tertutup dengan keramaian turis yang ada di sana. Setelah itu menuju Castel Sant’ Angelo (Castle of Holy Angel). Biasa disebut juga The Mauseoleum of Hadrian yaitu kuburan raja Romawi Hadrian dan keluarganya. Bangunan itu juga pernah digunakan oleh uskup sebagai benteng dan sekarang menjadi museum. Kami mengunjungi tempat wisata lainnya sebagaimana ditunjukkan dalam peta, sebagian dengan berjalan kaki, sebagian lagi naik bis dan trem.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s