SPORE & KL (Part III) 12-15 March 2010

Jam 8pagi setelah mandi, kami turun sarapan dan siap-siap jalan, tujuan pertama kami adalah Batu Caves. Berdasarkan informasi di hostel tersebut, kami harus naik bis Metro bayar 1 RM ke Central Market lalu naik bis 11 ambilnya di halte depan Bangkok Bank bayar 2.50RM. Sempat salah naik bis, yang menyebabkan kita harus jalan kaki lumayan untuk sampai di halte depan Bangkok Bank tersebut.

Batu caves terletak 13 km dari KL. Yang menarik dari tempat ini adalah kuil-kuil hindu dan patung dewa hindu (dewa murugan) setinggi 43 m, katanya sih tertinggi di dunia.

Sampai di Batu Caves, paling bagus menjajal kemampuan untuk menaiki tangga sebanyak 272 anak tangga . Sayangnya, gak ada yang mau. Jadi yach, foto-foto n go. Saya sih sebenarnya penasaran, ada apa diatas sana, sekalian olahraga secara ini yang ketiga kalinya kesini, 2007,2009,2010.

Pulangnya coba-coba nawar taxi sepakat dengan harga 25RM tujuan Central Market plus diantar ke tempat penjualan jam tangan (lupa namanya, tapi yang pasti yang pernah ke Malaysia via tur pasti mampir di tempat ini) dan Royal Selangor Pewter (kerajinan perak, timah dan tembaga). Tempat penjualan jam tangan menurutku biasa-biasa aja karena tidak semua merek dijual disini dan modelnya biasa-biasanya. Ada temanku yang beli jam Alexander Christie disini, ternyata model yang  sama di Makassar juga dijual lebih murah. Ughh. Kalo Pewter, harganya selangit, tapi memang setara dengan kualitas barangnya, barang-barang yang dijual seperti gelas tembaga, cawan, baki ukiran, kalung batu onyx dan lain sebagainya.

Jam 12.00 ada smsnya Inchi yang memastikan bahwa mereka jadi ke sg dari Jakarta dengan pesawat Airasia terakhir. So, jam 15.00 saya sudah harus kembali ke Paradiso, ngepak barang dan pergi ke bandara. Tadi pagi, saya udah cek tiket untuk penerbangan terakhir ke Sg jam 18.15 harga 106RM, tapi belinya sudah tidak bisa online, harus di Sales Office di KL Sentral atau di Bandara.

Kami tiba di Central Market. Central market ini adalah pusat kerajinan & seni Malaysia. Merupakan tempat belanja souvenir/oleh-oleh yang lebih murah dari tempat lain. Segala macam ada termasuk barang-barang khas indonesia, batik, atau souvenir Bali. Enaknya disini full AC.

Sebelum turun dari taxi di Central Market, saya dealkan sama supir taxinya untuk bawa K’ Idrus n keluarga keliling KL dengan harga RM100. Rutenya minimal Istana Raja, View Petronas, Petronas Twin Tower, KLCC, Twin Tower, China Town. Jadi jam 14.00 kami  harus sudah ada di tempat kami diturunkan. Waktu selama 2 jam tersebut kami gunakan untuk makan di KFC dan belanja di dalam Central Market. Udah gak sempat-sempat santai-santai keliling dan gak banyak tawar-tawar lagi. Sayangnya si supir taxi gak menepati janjinya. Jadi kami mencari taxi lain, setelah lama menunggu, dapat, tapi begitu naik di taxi dan mengetahui kami berlima, langsung menyuruh kami turun sambil ngomel-ngomel. Yahhh. Memang sih kami yang salah, tapi tadi pun kami naik taxi dari Batu Caves gak masalah. Mungkin tergantung supir taxinya kali ya. Supir taxi yang bawa kami dari Batu Caves orang India yang mungkin gak pusing dengan aturan sedangkan supir taxi yang ngusir kami orang Cina.

Alhasil, kami naik bis sekali turun di halte dekat hostel kami RM 1. Saya pun segera mengambil ransel dan naik monorail ke KL Sentral. Sesampai di KL Sentral, saya menuju ke Airasia Sales Office buat beli tiket. Mana pakai nomor antrian lagi, dan nomor antrianku masih lama, masih ada 25 nomor antrian sebelumku. Kalau begini caranya, I can’t make it. Harus nekat nerobos, Jadi begitu ada yang kosong, saya langsung masuk, dan masih bisa diperbolehkan membeli tiket pesawat tersebut. Sip. Harga RM121, karena ada tambahan biaya fee sebesar RM15 untuk pembelian dengan kartu kredit. Ternyata setelah saya perhatikan, di mesin no antrian ada tulisan kecil yang menyatakan bahwa untuk pembelian tiket hari tersebut tidak perlu ngantri, bisa langsung ke counter.

Waktu sudah menunjukkan pukul 15.40. Dengan berlari-lari kecil, saya turun ke tempat shuttle bis Skybus dan Aerobus. Saya milih Skybus yang akan start pukul 15.45 menit. Untung tepat waktu dan perjalanan ke bandara sekitar 1 jam.

Segera, ke counter check in, hanya makan waktu proses 5 menit, selesai. Aman deh, akhirnya saya bisa bernafas lega sedikit, shalat, cuci muka dan dandan biar fresh lagi.

Advertisements

SPORE & KL (Part II) 12-15 March 2010 BUKIT BINTANG

Pesawat mendarat dengan mulus di bandara LCCT KL. Selama perjalanan, tak henti-hentinya kami (saya, T’Baya n K’Mila) membicarakan kejadian tak terduga tadi. Yang berhasil berangkat, saya, T’Baya, K’Mila, K’ Idrus n Om Arfah. Rencana awal, mereka ber-8 membeli tiket Mks-KL-Mks seharga Rp 315rb/org/pp sudah termasuk bagasi n meal di pesawat. 1 orang mengundurkan diri karena harus siaga (siap antar jaga) istri yang perkiraannya bulan ini melahirkan, 3 orang batal berangkat karena terlambat check in. Terlambatnya mereka, karena ada 1 orang yang baru mengurus NPWP pada hari itu.

Begitu tiba di terminal, ada sms dari inchi, bahwa mereka sedang mengupayakan menyusul via Jakarta. Tapi kepastiannya baru besok. Ya sudah, kita liat gimana besok. Kalo semuanya sesuai rencana, malam ini kami menginap di Tune Hotel yang letaknya 200m dari bandara LCCT, karena pesawat menuju Sg besok jam 06 pagi. Tapi sayangnya, voucher hotel tersebut ada sama inchi, atas nama inchi dan menggunakan kartu kredit inchi. Jadi kelihatannya tidak mungkin digunakan. Daripada bengong, mending saya ikut dengan rombongan K’ Idrus ke KL. Pikirku ntar balik lagi jam 03pagi ke bandara LCCT.

Setelah keluar dari pintu ketibaan, kami bergegas ke shuttle bis. Ada 2 bis yang melayani rute LCCT-KL Sentral, Aerobus 8RM sekali jalan, Skybus by Airasia Corp 9 RM sekali jalan. Mereka beroperasi hampir 24 jam. Kami memilih Aerobus dan turun di KL Sentral. KL Sentral adalah stasiun kereta dan bis yang menghubungkan antar Negara bagian di Malaysia. Kami menuju stasiun Monorail yang letaknya sekitar 200m dari KL Sentral dan membeli kartu sekali pakai untuk tujuan Bukit Bintang RM2.10.

Untuk akomodasi mereka, saya udah booking hostel Paradiso Bed & Breakfast yang letaknya di Bukit Bintang di samping McD dan di depan stasiun monorail Bukit Bintang sisa menyeberang jalan. Strategis dan mudah ditemukan. Awalnya saya pesan 3 kamar, 1 kamar untuk Dg Kadir dan istri; 1 kamar untuk T’Baya n K’Mila; 1kamar sisanya untuk berempat. Harga rata-rata perorang Rp 335rb untuk 3 malam. Karena yang akan menginap hanya 4 orang maka 1 malam pertama tetap di charge full untuk 8 orang, malam berikutnya baru disesuaikan.

Jam 10 malam, kami keluar cari makan dan memilih di tempat K’Idrus suka nongkrong karena ada live music yang seru. Nasi gorengnya dan nasi lemaknya lumayan, kuetiaw biasa aja, the tariknya asik, harga RM75/berlima. Live musicnya seru, musiknya beragam, Lagu Indonesia, Lagu Irama Padang Pasir, Lagu Melayu dan lain sebagainya. Yang menarik juga, penontonnya juga seru, bule-bule bergoyang heboh n ada aja yang kasih saweran sama penyanyi ceweknya. Suasananya aman-aman aja, karena tempat tersebut tidak menyediakan bir/minuman keras. Jam 01 kami balik ke hostel, tidurrrrrrrrr. Saya mutusin untuk tidak balik lagi ke LCCT, lebih baik nunggu kabarnya inchi, jadi ke Sg atau tidak. Biar aja tiket ke Sg jam 6 pagi tersebut hangus. Capeekkk.

SPORE & KL (Part I) 12-15 March 2010

KEJADIAN TAK TERDUGA

Akhirnya perjalanan pertama di 2010 dilaksanakan, 12-15 Maret 2010. Tujuannya ke Singapore (Sg) 2 hari 2 malam. Bertiga  dengan office mate, inchi n ani.

Tiket kami beli di bulan Agustus 2009 Makassar-KL-Sg-KL-Makassar by Air Asia Rp 700rb/orang. Add on meal n bagasi jadi totalnya Rp 780rb. Khusus saya, karena potong e-gift vouchernya Airasia Rp 500rb (thanks melia), jadi cuman bayar Rp280rb.

Akomodasi dibooking online, 1 malam di Tune Hotel LCCT bayar Rp 300rb via www.tunehotels.com dan 2 malam di Footprints Hostel via www.hostelworld.com , bayar dp 10%, sisanya bayar tunai begitu tiba di sana Rp 290rb/2 malam/orang. Jadi total akomodasi 3malam tersebut Rp  390rb/org.

Kurs 1 RM = Rp 2,700;  S $1= Rp 6,700

Pesawat Sriwijaya yang membawaku terbang dari Palu menuju Makassar tiba di bandara Sultan Hasanuddin tepat waktu. Alhamdulillah, sesuai rencana. Tapi mana yang lain ya? Tiket dipegang sama inchi. Jam 15.30, terdengar pengumuman bahwa penumpang AirAsia diminta masuk ke ruang tunggu. Berarti proses check in sudah dari tadi. Telpon inchi katanya sudah di jalan, telpon Ani berkali-kali tapi gak diangkat. Telpon K’Idrus, suamiku yang rencananya akan berangkat juga ke KL bersama dengan keluarganya, juga masih di jalan. Saya udah mulai kuatir. Akhirnya K’Idrus tiba, tapi yang bawa tiket mereka juga belum sampai. Mereka rombongan 7 orang, yang sudah tiba di bandara baru 4 orang. Daripada menunggu, bergegas kukumpulkan semua paspor yang ada n airport tax Rp 100rb/orang dan mencoba memohon masuk di pintu kedatangan tanpa tiket tapi dengan memperlihatkan paspor, untungnya mau. Di AirAsia check in counter, nanya tiket pp atau minimal kode booking. Tapi karena tiket gak ada, mo nyari kode booking di e-mail, hpnya low batt, jadi dengan muka memelas minta tolong dibantu dicari by nama. Akhirnya mau, setelah dibuatkan boarding pass, bergegas keluar dan mengajak mereka masuk dan menyelesaikan urusan fiscal. Panik dan tegang, karena inchi masih di jalan kena macet iring-iringan jenazah, Ani gak ketahuan kabarnya, rombongannya K’Idrus yang tersisa (Dg. Kadir bersama istri n K’Cuki) juga masih di jalan.

Jam 16.15, pelan tapi pasti, petugas counternya mulai membereskan counter dan menutup proses check in. Saya masih memelas minta kelonggaran waktu, tapi rupanya udah gak ada lagi dispensasi. Apa boleh buat, saya masih berdiri bingung di depan counter, Ani n Inchi tiba tepat pada saat petugas counternya udah berlalu. Mau gimana lagi? Semuanya sudah direncanakan jauh-jauh hari, namun pas hari H-nya berantakan setengah mati. Aihh..Pengen rasanya membatalkan keberangkatan. Yahh, ngapain saya jalan sendirian, suatu hal yang paling saya hindari n secara ini bukan pertama kalinya ke Sg. Mereka (ani n inchi) yang baru mo kesana. Mereka sebenarnya udah ada di Makassar sejak sehari sebelumnya karena ngambil cuti.

Saya sendiri belum memastikan berangkat meskipun tiket Sriwijaya untuk hari Jumat tujuan ke Makassar sudah terbeli jauh-jauh hari, karena sampai hari Kamis, saya belum mengajukan permohonan cuti. Harusnya jauh-jauh hari sih, cuman Ani n Alam juga mengajukan cuti pada saat yang bersamaan. Dan melihat sikon yang ada, kuputuskan untuk mengajukan permohonan mereka duluan. Kebetulan pada minggu ini, ada kegiatan MOU  dengan Kejaksaan Tinggi dimana kegiatan tersebut akan dihadiri Kakanwil. So busy. Apalagi sebagai Kakanwil baru, beliau minta dijadwalkan bertemu Gubernur dan Walikota. Alhasil semuanya berjalan dengan lancar kemudian baru mencoba meminta izin cuti sama bos di hari Kamis. Alhamdulillah, diberi izin.

Setelah melewati proses imigrasi, kami masuk ke ruang tunggu. Jam 17.00 waktunya boarding pesawat dan segera lepas landas.

Pelajaran berharga yang dipetik:

  • Jangan samakan penerbangan domestic dengan penerbangan internasional. Check in untuk destinasi internasional 2-3 jam sebelum keberangkatan, karena masih harus proses fiscal, imigrasi n pemeriksaan barang bawaan non bagasi. Karena ada aturan barang cairan >100ml tidak diperbolehkan dibawa kecuali jika dibagasikan.
  • Jika berangkat berombongan, tunjuk 1 penanggung jawab. Penanggung jawab tersebut yang memegang dokumen seperti tiket n paspor serta kalo perlu berangkat ke bandara lebih dulu untuk proses check-in.
  • Manfaatkan self check in atau website check in. Fasilitas ini disediakan oleh Air Asia dan sudah dapat dimanfaatkan 48jam sebelum keberangkatan. Sayangnya untuk self check in belum ada fasilitasnya di bandara Sultan Hasanuddin. Untuk check in  melalui website, sisa mengikuti petunjuk step by step di www.airasia.com
  • Barang bawaan sudah dipersiapkan sehari sebelumnya, sehingga tidak perlu terburu-buru apalagi jika ada kejadian tak terduga.

ARRGH VISA DITOLAK

Surat balasan dari VFS Service sudah datang artinya saya akan segera tahu apakah visaku dan Amel disetujui atau tidak. Dengan tak sabar saya membukanya sambil mengucapkan bismillaahirrahmanirraahim. Arrgh. Ditolak!!!!!!! Dengan alasan belum dapat menunjukkan kemampuan keuangan yang memadai  dan dapat dipertanggungjawabkan n blablabla. Mungkin karena yang saya lampirkan adalah murni rekening tabungan untuk persiapan kesana, bukan rekening tabungan tampungan gaji, sebab ada statement di surat tersebut menyatakan ada kesan bahwa dana itu hanya  dimasukkan sementara untuk keperluan pengajuan visa. Yaaaa.

Sungguh sedih dan menyakitkan, karena ini pertama kali mengajukan visa. Huhuhu. Saya jadi panic dan shock, karena merasa pengajuanku begitu lengkap dan cukup optimis untuk dapat visanya. Apalagi Oz merupakan Negara tujuan yang ada dalam my wish list. My dream is not coming true.

Ada 3 opsi untuk mengajukan visa yaitu datang langsung, melalui travel agent atau melalui pos. Saya memilih mengirim berkas pengajuan ke VFS via pos dan pengembalian paspor asli melalui jasa kurir yang disediakan VFS dengan biaya tambahan Rp100rb/paspor untuk daerah Sulawesi. Saya tidak memilih datang langsung ke kantor VFS di Jakarta karena pertimbangan biaya dan waktu dan kalo melalui travel agent biasanya minta copy buku rekening yang saldo terakhirnya 50 jutaan (mana sanggup).

Berkas yang yang saya ajukan:

Form 48R IND (visa tourist)

Paspor Asli + copy

KTP/SIM A/SIM C/NPWP/KK

Buku Nikah

Akte Kelahiran

Surat Referensi dari Kantor

Slip gaji/ SPT Tahun Terakhir

Rekening 3 bulan terakhir

Tiket pesawat

Voucher booking Hostel

Itinerary plan

Travel Budget Plan

Biaya untuk mengajukan visa tourist Rp 950,000 + logistic fee Rp 160,000 = Rp 1,110,000. Visa disetujui atau tidak, biaya tidak dapat dikembalikan.

Rencana berangkat tanggal 08 Mei-16 Mei 2010. Tiket sudah terbeli sejak bulan Agustus 2009 dengan harga yang sangat murah, KL-Melbourne hanya Rp 1,290,000/pp sudah dengan bagasi, travel kit, dan makanan. Udah gitu memanfaatkan e-gift voucher 5 buah @ Rp 500rb untuk pembelian tiket saya n Amel. Jadi totally free.

Hotel/Hostel juga sudah dibooking. Itinerary plan dan travel budget plan kubuat dan kulampirkan untuk meyakinkan bahwa semua sudah direncanakan sebaik mungkin dan under control. Perkiraan biaya sekitar 19 juta dan saldo tabungan yang kulampirkan juga sekitar itu.

Saya juga sudah googling dan mencari tau tips n trick mengajukan visa di milis & udah dapat e-lonely planet seri Australia, Melbourne, Sydney.

But finally back to reality, life is move on.

Sebenarnya bisa aja ditunda dan merubah tanggal penerbangan, setelah dicek biaya perubahan tanggal Rp 750rb/orang ditambah selisih harga tiket pada tanggal tersebut. Saya harus menambah sekitar 5juta untuk penundaan penerbangan dan harus mengajukan kembali permohonan visa yang belum tentu disetujui dengan biaya Rp 1,110,000 + biaya ke Jakarta untuk ngurus visanya.

Saya memutuskan untuk membatalkan rencana tersebut.

Ada hikmahnya juga sih, uang persiapanku itu kujadikan tanda jadi pembelian rumah. Doakan semoga saya sukses sampai akad kredit.

Informasi & download formulir visa di http://www.vfs-au-id.com/

BUDGET PLAN

DESCRIPTION CURRENCY UNIT PRICE  UNIT  CONVERT CURRENCY  IDR NOTES
AIRFLIGHT TICKET
PLW-UPG IDR  Rp       400.000,00                 1,00  Rp                1  Rp               400.000
UPG-KUL IDR  Rp       300.200,00                 1,00  Rp                1  Rp               300.200 bought
KUL-MEL-KUL MYR                       475,00                 1,00  Rp       3.000  Rp           1.425.000 bought
MEL-SYD AUD                         45,00                 1,00  Rp       8.500  Rp               382.500
CAN-MEL AUD                         43,00                 1,00  Rp       8.500  Rp               365.500
KUL-BKK-KUL MYR                       198,50                 1,00  Rp       3.000  Rp               595.500 bought
KUL-UPG MYR                         30,00                 1,00  Rp       3.000  Rp                 90.000 bought
UPG-PLW IDR  Rp       400.000,00                 1,00  Rp                1  Rp               400.000
ACCOMMODATION
KUL (1N) MYR                         38,78                 1,00  Rp       3.000  Rp               116.340 bought
MEL (3N) AUD                         32,50                 3,00  Rp       8.500  Rp               828.750 bought (dp10%)
SYDNEY (3N) AUD                         32,50                 3,00  Rp       8.500  Rp               828.750 bought (dp10%)
CANBERRA (1N) AUD                         32,50                 1,00  Rp       8.500  Rp               276.250
KUL (1N) MYR                         27,15                 1,00  Rp       3.000  Rp                 81.435 bought
BKK (2N) THB                       750,00                 2,00  Rp           300  Rp               450.000
VISA FEE+LOGISTIC+COURIER IDR           1.210.000,00                 1,00  Rp                1  Rp           1.210.000
F&B
KUL (2D) MYR                         15,00                 3,00  Rp       3.000  Rp               135.000
MEL/SYD/CAN (8D) AUD 10              16,00  Rp       8.500  Rp           1.360.000
BKK (2D) THB 170                 6,00  Rp           300  Rp               306.000
LOCAL TRANSPORTATION
MEL/SYD/CAN (8D) AUD                       200,00  LS  Rp       8.500  Rp           1.700.000
BKK (2D) THB                   1.500,00  LS  Rp           300  Rp               450.000
FISKAL 0                 1,00  Rp                –  Rp                           –
AIRPORT TAX IDR               100.000,00                 1,00  Rp                1  Rp               100.000
TRAVEL INSURANCE US                         32,50                 1,00  Rp     10.000  Rp               325.000
ENTRANCE FEES
MEL/SYD/CAN (8D)                       300,00  LS  Rp       8.500  Rp           2.550.000
BKK (2D)                   1.500,00  LS  Rp           300  Rp               450.000
MONEY POCKET IDR                     100.000              13,00  Rp                1  Rp           1.300.000
SUBTOTAL  Rp         16.426.225
UNEXPECTED EXPENSES (15%)  Rp           2.463.934
TOTAL ASSUMED BUDGET  Rp         18.890.159
 CONVERTED TO AUD$  Rp                    2.222

22 JANUARY

Hari ini saya ulang tahun, yang paling duluan ngucapin selamat ulang tahun adalah Pak Mansur teman kantor via sms, Pak Kurnia via Facebook, setelah itu seabreg sms n pesan dinding facebook memberikan doa dan harapan. Thanks ya untuk semua ucapan selamat ulang tahunnya.

Di rumah, ada tradisi bahwa setiap ulang tahun adalah minimal ada kue ulang tahun bikinan sendiri. Jadi mulai saya, papanya aya, aya, dede n kajol. Sekalian belajar bikin kue, tapi kok gak mahir-mahir juga ya. Tapi gpp, daripada gak ada. Untuk mengatur waktu pembuatannya, 2 hari sebelumnya saya udah bikin cake-nya, cake coklat dibelah jadi 2 kemudian diisi vla bagian tengahnya. Kemarin, saya sisa menghias kuenya dengan whip cream n coklat serut.

Untuk kantor, saya bikinin juga doughnut satay, yaitu 3 mini donat yang dijadikan 1 dengan tusuk sate. Harusnya sih bikinnya pagi sebelum ke kantor, namun karena hari itu hari jumat, ada aturan bahwa yang terlambat >7.15 denda membelikan teh botol untuk seluruh karyawan, maka bikinnya malam sebelumnya. Kemudian baru dihias pagi-pagi sekali.

Dikantor, gak bisa gak harus siap-siap mentraktir, pada hari jumat, kebetulan jadwalnya makan bubur manado setelah main volly. Dan sorenya, akan ada briefing dari Pak Inas Kakanwil sekalian makan malam di Winners. Jadi traktirannya sepakat hari senin aja.

Pada saat briefing, dapat hadiah ulang tahun dari Pak Inas. Horeee. Sempat mo diceburin di kolam tapi dengan muka memelas, saya bilang saya lagi haid jadi gak enak kalo diceburin (emang beneran haidnya, tapi  udah selesai hihihi) n berhasillll gak jadi.

Hari Sabtu, saya, Pak Arief, Pak Alias, Pak Mansur, Pak Inas, Pak Hafid n Pak Toni ke Tg Karang, P’ Inas mau mancing. Saya sih gak mancing, selain alatnya terbatas, kayaknya saya gak hoki mancing, mau tapi sebel juga kalo ikan gak ada yang nyangkut.

Saya lebih senang menikmati angin laut yang berhembus sepoi-sepoi, menikmati goyangan perahu oleh ombak dan desiran ombak, menikmati birunya air laut, menikmati pemandangan bawah laut dari atas perahu di tepi pantai.

Beberapa hari sebelumnya Alias n saya survey dulu di Tg. Karang itu (30 menit dari palu), karena VIP yang datang, tentu saja semuanya harus dipersiapkan lebih dahulu, termasuk mencari perahu buat mancing, beli alat mancing, baju pelampung dll. Kita sempat nanya-nanya di Prince John, resort yang ekslusive di sana. Ternyata orang local bisa lho nginap disana, kirain selama ini exclusive hanya untuk bule-bule. Harga cottagenya 450-600rb/hari. Trus bisa kursus diving (PADI), harga sekitar 4 juta untuk kursus tiap hari selama seminggu. Berbeda dengan kursus lainnya, ini langsung di laut latihannya, gak perlu di kolam renang, sertifikatnya dari Australia. Kabar baik buatku. Jadi gak perlu jauh-jauh buat kursusnya. Tapi nanti aja, setelah rencana liburanku sukses, nabung lagi buat bayar kursus n ada teman yang bisa diajak kursus bareng.

Karena nyewa perahu di Prince John itu cukup mahal, makanya kita nyari alternatif nyewa perahu sekitarnya. Setelah nanya2, kita ditunjukin rumah Om Tang yang punya perahu. Kirain orang cina ternyata setelah bertemu, orang Bugis. Klop lah, dealnya dalam Bahasa Bugis ama Alias. Harga sewa khusus hari sabtu dari jam 08.00-14.00 Rp 150rb, perahu pincara.

MY WISH LIST

  1. Travelling:

Dalam Negeri:  Sumatera pengen jelajah dari Lampung sampai Aceh, Lombok, Manado, Tarakan (ngunjungin Kakak), Ternate (ngunjungin Adik)

Luar negeri: Singapore, Thailand (Bisa pergi sewaktu-waktu karena  gak perlu persiapan ribet), Australia, Eropa, Umrah backpacker (nunggu ada duit n ada waktu)

  1. Naik haji, selambat-lambatnya tahun 2012 sudah dapat ketetapan porsi haji
  2. I want to be me but better. Better means, sy sampai pada tahap nyaman dengan diri sendiri. Strong personality, high performance, full of confidence, humble tanpa perlu cari muka.
  3. Proficiency in English
  4. Bisa berenang dan diving
  5. Pintar masak, pengen ikut kursus-kursus memasak
  6. Dapat beasiswa S2

Catatan: My wish list ini dibikin sekitar bulan 07 tahun 2009.

Progressnya sejauh ini:

bulan 07-2009, kursus berenang, 20x pertemuan, bayar Rp 275rb, sampai saat ini (bulan 01-2010) baru 10x pertemuan. Tapi lumayanlah, jadi tau gaya berenang walau belum sempurna banget

bulan 08-2009, saya udah issued tiket to Australia untuk keberangkatan bulan Mei 2010 bersama Amel,

bulan 08-2009, saya udah issued tiket to Singapore untuk keberangkatan bulan Maret 2010

bulan 11-2009, ternyata saya berkesempatan ke Singapore via Batam. Alhamdulillah

bulan 11-2009, issued tiket to Bangkok untuk keberangkatan bulan Mei 2010 bersama keluargaku, (harus adil antara senang2 sendiri n senang bareng keluarga)

Untuk yang lain-lain, semoga ada jalan yang diridhoi oleh Allah SWT untuk mewujudkannya.

THE WAY TO GET MY DRIVING LICENSE 2010-2015

Ulang tahunku seminggu lagi, itu artinya SIM A & C-ku akan habis masa berlakunya minggu depan. Sebagai warga negara yang baik, saya harus siap-siap melakukan perpanjangan SIM.  

Sayangnya sampai saat ini, untuk perpanjangan SIM harus dilakukan di daerah tempat dikeluarkannya SIM lama. Sementara, saya udah di Palu dan SIM lama saya dikeluarkan di Makassar. So, Untuk mendapatkan SIM di Palu, saya harus mengajukan permohonan SIM baru bukan SIM perpanjangan. Kebetulan beberapa teman di kantor, Pak Nugroho, Ida, n Wira juga ingin membuat SIM. Jadi hari Kamis, 14 Januari, kami beramai-ramai mendatangi kantor polisi. Sebelumnya teman kami berpesan, jangan celingak-celinguk, lebih baik langsung ke tempat foto SIM menyampaikan maksud & tujuan agar prosesnya cepat. Di area pengurusan SIM, sudah terpampang jelas biaya pengurusan SIM. Ada pula spanduk himbauan agar tidak melakukan pengurusan SIM melalui calo. Kami coba-coba bertanya tentang persyaratannya. Persyaratannya yaitu KTP setempat, Surat Keterangan Berbadan Sehat dari Dokter Umum/Polri, Ujian Teori dan Ujian Praktek. Kami bertanya lagi, bagaimana agar kami ”dipermudah”. Jawabannya, silakan melengkapi persyaratan dan melakukan pembayaran biaya SIM sesuai ketentuan. Akhirnya kami sepakat untuk mengikuti ketentuan yang berlaku dengan pertimbangan: Yang pertama selisih biaya SIM cukup besar antara ngurus sendiri dan ’dibantu mengurus’; yang kedua, masa sih kita gak bisa lulus ujian teori n prakteknya secara ini sudah SIM yang ketiga, setidaknya sudah punya jam terbang yang tinggi; Yang ketiga, gpp ribet toh cuman sekali per lima tahun; Yang keempat, membantu mensukseskan pelayanan publik ini bebas dari KKN (ideal banget ya).

Kemudian kami ke Puskesmas Birobuli untuk mengambil Surat Keterangan Berbadan Sehat, ternyata dokter temannya Pak Nugroho sedang tidak berada di tempat, jadinya kami diminta mengurus seperti biasa di loket. Format isian SKBS lebih rumit, dan kami harus check lab sebagai salah satu persyaratan. Waduhh, gak jadi deh, rumit, butuh waktu, harus ambil darah, biaya adm pasti > Rp 10,000.

Mo ambil SKBS di dr. Benny, dokter yang bekerjasama dengan kantor kami, tapi bukanya nanti jam 14.00. Akhirnya kami memutuskan ke Puskesmas Mabelopura (berdasarkan rekomendasi Wira, karena dia biasanya ngambil SKBS disini, biaya adm Cuma Rp 10rb). Ternyata prosedurnya sama saja dengan di Puskesmas yang tadi (aturan baru katanya), Cuma disini lebih ramah dan tidak terlalu ramai. Tensi, Cek HB (kita berhasil merayu u tidak di ambil darah jadi hasilnya hanya asumsi), tes buta warna, bayarnya Rp 15,000. Tapi selesainya cukup lama, kami kurang lebih 2 jam disini. Waktu sudah jam 12.00, gak memungkinkan untuk kembali ngurus SIM, kami balik di kantor dan janjian buat ngurus SIM lusa.

 

Hari Sabtu, 16 Januari 2010, kami ketemuan di kantor polisi jam 11.00. Bayar 75,000 untuk SIM baru x 2 (A & C), selanjutnya berkas di verifikasi. Disini Ida ditawarin untuk ”dibantu”, tambahan Rp 150rb/SIM. Tapi kami masih berfikir untuk lanjut ngurus sendiri aja. Selanjutnya ujian teori, tesnya berbeda-beda setiap orang. Ada 1 buku tebal, isinya beberapa seri soal. Kami diminta untuk menulis kode SIM yang dimohon, dan seri soal, lalu menjawabnya.

Setelah jawaban diperiksa, yang bisa lanjut ke ujian praktek cuman saya, yang lain belum memenuhi nilai minimum u lulus, Pak Nugroho lulus ujian SIM A, tapi ujian SIM Cnya gak lulus.

 

Rasanya semangat banget. Pikirku, sisa 1 langkah lagi untuk dapat SIM. Ternyata oh ternyata ujian prakteknya susah sekali.  Pertama ujian SIM C, patok-patok kayu dipasang, harus lewat diantara kedua patok, jaraknya 60 cm, berjalan zig zag, memutar mengikuti angka 8, kesempatan hanya 3x, kalo kaki menyentuh tanah, harus ulang dari awal. Waduh, di kesempatan ke tiga hampir berhasil, tapi sayang..kakiku turun. GAGAL

Kedua ujian SIM A, 3 tahapan, maju, belok kanan, mundur lurus (harus mengandalkan spion), parkir. Kesempatan pertama, tahap 1 n 2 mulus, tahap 3 pada saat parkir dispace yg sempit, gagal sampai 3x. GAGAL

 

 

Huhuhuhuh, sedih banget…. apalagi ternyata ketiga temen saya, begitu gak lulus ujian teori, langsung minta ”dibantu” sama ibu polwan yang ngetes teori kita tanpa bilang-bilang ke saya. Jadi begitu saya selesai tes itu, mereka malah udah jadi SIM-nya. Bayar tambahan 125rb/SIM.

 

Masih ada kesempatan untuk ujian praktek 2 x per 14 hari, jika masih gagal, uang pembayaran SIM akan dikembalikan utuh. Dijelasin seperti itu, saya langsung minta ”dibantu” aja, saya diminta bayar tambahan 150rb/SIM. Yang bener aja, masak sy yang ikut ujian praktek kenanya lebih mahal? Huh. Akhirnya biayanya disamakan ama teman2 saya.

 

Jangan bilang karena sy kurang sip bawa motor/ mobilnya, tapi space/ruang yang diberi patok-patok itu, rasa-rasanya untuk orang yg very-very expert, artinya tingkat kesulitannya tinggi sekali. Lebar untuk motor  lewat antar 2 patok aja sekitar 60cm, mobil APV sisa space kiri kanan sekitar 80cm, pas-pasan banget untuk belok kanan tanpa nyenggol balok.

Jangan coba-coba, yang baru saja bisa bawa mobil/motor untuk ikut tes.

 

Kalo tesnya seperti ini, saya yakin hanya 1 dari 100 orang yang berhasil. Harusnya ada uji/telaah terhadap tingkat kegagalan ujian praktek. Kalo lebih banyak yang gagal, pasti ada yang salah dengan model tesnya.

 

Ya sudahlah, Yang terpenting, saya dapat SIM-nya yang akan berlaku sampai tahun 2015.